how far is too far
hai semua…
mari ber-asbahna terlebih dahulu. udah? yuk bc..
kemarin, dirumah gw dah buat baaaanyak artikel tuk dico paste disini. ada 7 artkel, tp karena virus yaaa..ilang smua deh! hehe..kesel c, tp gak apa.
di artikel2 itu gw banyak tulis ttg Sosmas dan team buildingnya. ada juga skandal MWA Sorong, ttg kemenagan Shofwan, ttg kawan baru (hei zero interest), ttg poligami, and many more…
dan sekarang, ijinkan saya untuk menulis kembali ttg semuanya…
dimulai dari poligami (pat, loe kudu baca)
spesial tuk yang mendikotomikan semua dgn hitam putih. menurut gw satu sih yang bikin hidup jadi lebih mudah. bedakan saja antara urusan saya, urusan kamu dan urusan Tuhan.
dalam bahasa yang mungkin akan bisa loe terima (karena ini juga gw kutip dari loe pat), biarkan saja nilai privat menjadi nilai privat dan jangan masukkanek dalam ruang publik. dalam kasus poligami yang tentunya dilakukan oleh seorang suami (bahkan mungkin dgn persetujuan ato bahkan dorongan istrinya) akan sangat aneh rasanya ketika pemerintah ikt andil tuk ngurusin, bahkan sampe harus buat ato revisi UU. dalam pola pikir gw yang naif ini, kadang gw menggugat byk hal. termasuk ke-comel-an org2 terhadap keputusan yg diambil sama individu lain. come on! perkara poligami tuh bukan perkara itung2an matematis yang klo menurut pendapat loe pat, asalkan orang2 dah tau aturan dan normanya maka poligami boleh aja dilakukan, dan itu jadi alasan yang mndasari loe tuk bilang bahwa di eropa aja yang mestinya membolehkan poligami. hanya karena alasan bhw org2 eropa jauh lebih ngerti ttg hukum, konsep ato apapun itu namanya. gak segampang itu bung
karena….pernikahan itu bukan cuma pertimbangn nalar. disana ada pertimbangan rasa. hati, nurani. dan itu gak cuma bisa dijelaskan ato dijabarkan lwt hukum. ini mah sama aja kayak yang loe dulu bilang ttg pacaran. pilihan.
klo loe dulu bilang pacaran itu pilihan, maka org yang berpoligami tu juga memilih dgn sadar apa yg dia lakukan. ya kan?
dan ketika satu perbuatan dilakukan dengan pertimbangn bahwa akan ada positive social-impact yang terjadi maka hal tersebut sah saja dilakukan.
coba deh, bersikap proporsional. perbuatan manusia, terlebih yang mautan afektifnya lebih banyak ketimbang kognitfnya gak akan pernah bsia diukur lewat dikotomi yang naif. itu semua kontinum sifatnya…
bahkan nih ya klomau bawa2 al-quran, disitu emang udah jelas2 bgt kok ditulis ttg ‘panduan’ berpoligami yang sangat berat (gimana gak berat, klo syaratnya yg jadi istri selanjutnya harus janda, patut ditolong, dan bisa berlaku adil. dan diayat penjelasnya jelas2 ditulis bahwa berlaku adil itu hampir gak mungkin (apa malah gak mungkin ya?). dan orang yang melakukan poligami pasti sadar bgt (hmm…pengecualian tuk org2 yg loe bilang ada di desa2 dan belum terdidik lho..) dgn resiko, konsekuensinya.
pat, gw mau tanya deh. emang dalam bayangn loe, enak bgt yah nikah tuh? menurut gw sih gak gampang lho pat. tanggung jawabnya gede bgt. makanya, gw sangat menghargai ketika ada laki2 dewasa yang mapan terus sukses membina satu rumah tangga dengan baik dan bijak, terus dia berpikir untuk membina lagi rumah tangga lain dgn harapan yang sama. itu kerja berat dek. dan cuma mereka yang lurus niat aja yang akan bisa…
ok, mari mencoba lebih membumi. tentunya,sebagai manusia yang punya ego dan hati akan sangat sulit bagi perempuan manapun untuk membagi hal yang amat dia cinta. tp disini arti penting jadi istri, ibu, dan hamba sekaligus. jadi istri, berarti loe tunduk ma suami loe selama dia mengarah ke jalan yang benar dan jadi pelengkap (teman seperjalanan yg bsia ngehibur tp juga bs jadi sparring partner), jadi ibu berarti loe harus tanamkan nilai2 kebaikan sama anak2 loe dan kasih mereka pilihan tuk jadi yang mereka bisa dan mereka mau tanpa paksaan. jadi hamba? gw sangat meyakini bahwa pada hakikatnya, apapun yang kita lakukan di dunia adalah untuk mengejar keridhaan Allah saja, dan selama dalam proses itu kita juga akan mendapatkan reward2 kecil (keinginan kita, kesenangan kita, dll). tp gak bisa dibilang bahwa dalam proses mengeajr sesuatu itu semua hal akan berjalan sesuai yang loe mau. akan ada saatnya kita di’uji’ dan ditest. apa benar selama ini kita cinta ma Dia? ikhlas dengan semua yang Dia ‘coba’kan ke kita? ikhlas?
pernah denger cerita kaum muhajirin dan anshar kan? mereka bersaudara. apapun mereka bagi untuk kemashlahatan bersama. ada cerita yg dulus aat gw denger pertama kali gw marah2 (saking gak logisnya!) tp sekarang, ge ngerti dh..
ceritanya, bahwa ada seorang anshar yang punya 2 istri,rumah, kebun.ketika ada seorang sahabat Muhajirin yang datang dan SM itu gak punya apapun maka sahabat Ansharnya (kaum M dan A kan dipersaudarakan, dipasang2in gtu) kasih dia satu istrinya, dan bagi 2 hartanya. ekstrim? jelas! gw aja mpe bingung denger ceritanya..
tega bgt tuh suami ngasi istrinya. tp itusemua dilakukan dgn sadar.karena apa? karena sahabat Anshar itu tau bgt klo keikhlasannya kasih semua yang dia cinta, akan dapet ganjaran lebih dari tuhannya. dan itu cukup.
makanya, pas loe tanya "loe mau gak dipoligami?"
gw jawab, gw akan nikah kelak klo gw dah siap dipoligami (walopun pasti akan sangat menyenagkan klo suami itu monogami aja.)yaa..namanya jg manusia. egonya bsr bgt…(moral hypocrisy?)
hmm..jadi nyeracau kemana2..ya udah..intinya cuma mau bilang klo gak pernah logis aja klo gara2 satu figur melakukan satu kesalahan (yg gw tetep yakin,itu bukan kesalahan.itu pilihan) kita jadi mengeneralisir masalah dan gak bisa liat konteks lebih luasnya. kita kan cendekia, harus cover both side.hehe…
tuk yang kontra poligami: gak apa kok, manusia kan punya nilai dan kepercayaan masing2. itu hak kita. tp jgn sampe gak bs berpikir luas ya…kita sama2 belajar. judul diatas? how far is too far? dah kejawab blom?hoho
December 13th, 2006 at 8:57 am
yaah bu, gw ngarepin lu nulis ttg gw padahal *hahaha najeeeeees*
eh kl file di flashdisk tak nampak blm tntu ilang jg..
December 15th, 2006 at 1:32 am
kebanyakan orang akan berkata begini gi :
“secara kognitif saya bisa menerima poligami tetapi secara afektif nanti dulu”
ha…ha,,
btw, buat siapapun laki-laki yang bilang — agh, nanti gue mau poligami, kan boleh sama agama–
guys : think it –>
so, jangan tanyakan setuju atau tidak setuju adanya poligami(karena,spt mempertanyakan kebenaran al-Qur’an) tapi tanyakan apakah anda
sudah dapat berlaku adil?