PUSGERAK BEM UI, pahlawan kesiangan
ok, time to bahas hal2 yang gw gak ok. politik! hmm…judul diatas gw dah liat dari lama. klo gak salah (koreksi gw klo salah) itu judul surat dari Sorong (mantan calon MWA UM 0/06, yah?), untuk syapanya gw gak tau. untuk publik kali ya?
seperti biasa gw yang agak bodoh dan dudul inicuma mau komen2 dikit ma apa yang mas, bung, or what so ever kita memanggil beliau. gw sih lebih pewe panggil dia sorong.(gak penting)
di tulisannya yang berapi2 dan agak tengil (bkan sorong namanya klo gak gtu..dia kan jago bgt beretorika dan buat kuping panas,,,gw salut untuk hal yg satu itu. ajarin dunks!hehe), dia menyindir2 anak2 pusgerak dan BEM UI yang bilang klo MWA adalah antek dari isme (what kind of isme??dont know lah), kapitalisme, neo lib, dll. man!!parah juga yaah..klo emang bener kayak gtu tuh masalahnya, gw jadi berpikir ulang…kita teh pragmatis amat jadi manusia. kadang gw berpikir gini: bahkan dalam keadaan yang paling buruk pun, akan ada hal2 baik yang bisa kita ciptakan. itu harus diusahakan. dan setau gw juga tuh tulisan sorong ada yang nyebutin klo kebijakan ttg A-fee kelaur saat gaka da MWA UM. how come? baca sejarahnya adja deh..kepanjangn klo ditulis mah. dan belajar dari sejarah, emang keberadaan mwa um yang cuma satu org ini gak bisa kita nafikkan klo gak ada gunanya, ato gak representatif..gak segampang dan sepraksis itu menaurut gw…ada banyak sudut pandang (dan semuanya tentunya subjektif) utk menilai kebermafaatan dan fungsi dari mwa um duduk di mwa (sbgai produk dari perubahan status ui jadi bhmn).
secara naif, gw mikir niy..gimana klo tuh MWA malah kita jadiin alat untuk strikes back!! ambil positifnya ajalah..dan sambil menyelam minum air…(hmm..sebenen\rnya da nih tinjauan teoritis dari strikes back MWA UM di dalam), heroik bener yah klo misalnya MWA UM justru bisa jadi alat (tool) untuk melawan. tentunya loe negrti artianmelawan disini bukn yang harfiah ya..tp yang lebih smooth..yang lebih ngintelek dan lbh kita, mahasiswa. jadi, sekarang mah gak usah deh terak2 dulu ttg neo lib, isme lalala. kita jalan aja dulu tentunya dgn strategi yang matang. dgn mengautakan kemabli apa2 halyang masih kurang. klo sorong bilang, koordinasi eksekutif ma MWA (yah?), masih ada yang kurang bung. stakeholder mwa um (mwa) kan bukn cuma bem or senat ato lembaga kemahasiswaan doang, ya tho?
sayangnya, (ada nih hal2 yang gw sayangkan dari surat sorong itu) isi dan niatan baik dari saudara sorong kurang diwrap up dgn bungkus yang manis. menurut gw sih kritik dan oto kritk wajib sifatnya. apalahi yang konstruktif. tp klo mau lebih wise dan lebih didengar oleh semua. pakelah cara2 yang baik dan tidak memekakan telinag. pecaya deh..kita semua pasti mau jadi lebih baik kan? apalagi udah pad gede..masak masih mau tengil2an juga..gak jaman!!
alam demokrasi mungkin akan selalu menghasilkn konflik, benturan bahkan mungkin perpecahan. tp inget…gak untuk menjadikan kawan seperjuangan terexclude-kan. kalian kan maju bgt tuh pikirannya, moga juga dgn hati dan nuraninya ya..hehehe..
maap klo ada salah kata. pliss!! do no ever sue me,huahaha
January 5th, 2007 at 6:56 am
hehehe…
January 7th, 2007 at 6:38 am
ketika kemurnian semantik telah ternoda kedalam kesimpangsiuran gejala, maka pada saat itu kisah tentang istilah akan terjebak kedalam salah kaprah…..Mungkin itulah nasib “neo-liberalisme” sebagai sebuah istilah
(Dikkutip dari Orasi Budaya-nya Bapak B. Herryy Priyono, Ph.D -pengajar pasca sarjana STF DRIYARKARA- berjudul “Neo-Liberalisme dan Kebudayaan” Graha Bakti Budaya TIM)
Apakah saya pernah menyebut secara eksplisist MWA UM sebagai “antek” kapitalis atau tidak, apakah saudara sorong salah tangkap, atau prediksi2 lainnya bukanlah hal yang akan saya perdebatkan (rasanya ada yang lebih penting dari pada itu).
Saya cuma mo bilang kalo beberapa regulasi yang membidani lahirnya komersislisasi layanan publik bernama pendidikan di negeri kita ini tidak pernah terlepas dari pengaruh sebuah World System-yang untuk memudahkan identifikasi kami menyebutnya Kapitalisme Global. tentunya tidak akan cukup membeberkan fakta2 tersebut dalam tulisan ini (rencananya PUSGERAK akan mengadakan Kajian “REBOAN” Rabu 2pekan kedepan dengan tema GATS dan Nasib Pendidikan kita) Namun secara singkat ternyata Munculnya regulasi2 yang membawa pendidikan kita ke arah komersialisasi sangat terkait dengan Kapitalisme Global yang dimanifestasikan dengan dibentuknya WTO dan dinegara kita dengan diratifikasinya keberadaan WTO dan Rezim GATT (general agreement ont tariff and trade) serta GATS (General Agreement on Trade in Services) dalam hukum positif kita dengan UU NO 7 Tahun 1994….so kalo seandainya saya memang mengatakan MWA adalah produk “kapitalisme global” maka hal itu dapat saya buktikan!
Komentar Kawan Sorong beberpa bulan lalu itu sengaja tidak saya tanggapi karena saya pikir malah akan memperpanjang persoalan. jikapun saya memang salah saya fikir tulisan beliau merupakan sebuah kritik yang harus saya perhatikan. Tapi kalaupun saya benar, saya fikir tidak perlu saya membuat klarifikasi. saya khawati kalu hal itu saya lakukan maka saya akan terjebak pada permainan Politik Kampus yang menyebalkan. Bagi saya sudah saatnya Mahasiswa menggalang aliansi dan kekuatan bersama sebab saat ini sesuatu yang layak dijadikan musuh bukanlah kawan kita sendiri (mahasiswa) tetapi sebuah sistem besar, sistem dunia yang menindas dan menghisap -yang saya identifikasi dengan sebutan kapitalisme global.
Seharusnya arena politik kampus itu segera dienyahkan dari otak para aktivis. mengapa? sebab politik kampus telah melokalisir aktivis mahasiswa dalam peran2 domestik (urusan kampus dan kemahasiswaan an sich). padahal diluar sana berapa banyak masyarakat yang menanti kerja konkret kita. sungguh ketika saya berjumpa dengan beberapa kawan dari Makasar&Palu saya merasa sangat kerdil !!! mereka bisa dibilang orang2 yang terbuang dalam arena politik kampus di kampusnya masing2. tapi bagi mereka itu bukan masalah sebab yang mereka kejar bukan Kekuasaan yang dalam politik kampus dikonstruksikan dalam bentuk lembaga formal (lembaga intra kampus macam BEM). yang mereka kerjakan adalah turun ke basis (ini bahasa mereka) dan melakukan advokasi secara langsung bekerja sama dengan jejering masyarakat sipil dan NGO. salah seorang dari mereka bahkan pernah tinggal di sebuah hutan adat selama 3 bulan untuk melakukan investigasi dalam kasus pelanggaran hak2 adat masyarakat setempat oleh sebuah perusahaan Multinasional dibidang tambang.
Sungguh saya ingin saudari (dan siapa saja) faham bahwa apa yang kami lakukan bukanlah untuk mendeskriditkan person atau sebuah lembaga (sebagaimana sering terjadi dalam dunia politik kampus). yang kami kecam adalah sistem yang lebih besar dari itu. dan perlu saudari ingat bagi kami politik kampus dan lembaga formal cuma tools untuk mewujudkan gagasan. silahkan jika kawan2 mau berdebat lebih dari tiga bulan cuma buat bikin kesepakatan tentang perlu tidaknya parpolma, perubahan periodisasi kelembagaan, hubungan senat dengan BEm atau what ever. bagi kami ada yang jauh lebih penting dari itu semua. kalo semua itu cuma bikin kita melupakan masalah2 penting ,bagi saya lebih baik kita bubarkan saja konstruksi kekuasaan bernama lembaga formal itu (seperti yang dilakukan oleh kawan2 FISIPOL UGM).
Namun perlu juga saudarai ketahui. keterlibatan kami dalam lembaga formal (sebagai besar anggota pusgerak adalah aktivis2 yang sebelumnya pernah dan masih terlibat dalam aktivitas2 gerakan di luar kampus seperti NGO, Lembaga penelitian, atau lembaga gerakan mahasiswa ekstra kampus) telah membawa banyak perubahan dalam cara berfikir kami.
Awalnya sebagain orang di PUSGERAK memang masih berfikir dengan gaya2 NGO “radikal”: Revoluisioner dan Konfrontatif dalam beberpa hal yang prinsipil (misalnya : menolak lembaga MWA adalah hal prinsipil dalam penolakan komersialisasi pendidikan). tetapi pada akhirnya kami menyadari gerakan di lembaga formal adalah gerakan advokasi yang melibatkan banyak kepentingan. sehingga terkadang dengan berat hati kami harus berkompromi dengan realitas. harus diakui inilah yang sangat sulit.
Meski demikian walau gerakan berjalan dengan sangat lembat (karena masih malu2 bergerak secara revolusioner dan konfrontatif). saya yakin lembaga ini akan menjadi salah satu metenarasi -bahkan kontra narasi- dari sebuah narasi besar bernama Kapitalisme Global. sebagaimana gerakan adat dan petani dalam Zapataista menjadi ikon gerakan antiglobaliasi saat ini dan menjadi pelopor demokratisasi di negaranya (Mexico).
pada akhirnya saya cuma mo bilang : memang sulit menerima sesuatu yang berbeda dari mainstream. terkadang mereka yang menawarkan ide2 alternatif selalu dipandang miring oleh mereka yang sudah terhegemoni dalam konstruksi yang dibuat oleh kekuasaan yang mengendalikan mainstream (saya berasumsi bahwa kekuasaan dan ilmu pengetahun memiliki korelasi yang kuat. silahkan sudari baca tulisan2nya Foccault) Karenanya tanggapan bahwa kami adalah “phalawan kesiangan” atau yang sejenisnya adalah hal biasa bagi kami. bahkan kalo mau dibandingkan, apa yang kami alami cuma secuil dari apa yang dirasakan oleh aktivis2 yang kritis terhadap globalisasi. Di Italia Carlo Guilani harus membayar idealismenya dengan nyawa karena saat berdemonstrasi menolak sidang Negara2 Maju pendukung pasar bebas dia dilindas oleh Panser setelah sebelumnya ditembaki oleh carabineri (polisi). Di Hongkong, beberapa aktivis petani Indonesia ditahan dan “digebuki” oleh aparat saat berunjuk rasa menolak sidang WTO di Hongkong 2 tahun silam. jadi bagi kami hinaan, tanggapan miring dll, dsb bukan jadi masalah. yah meskipun terkadang itu semua sedikit menggangu konsentrasi kami.
Salam dan Tabik
Orang yang percaya bahwa Selalu ada Alternatif !!!
Viva Altermundialista
January 7th, 2007 at 6:46 am
Woi koq lo nulis blog ini dengan warna font yang tersamar? Takut ada yang baca ya? ah Payah kau…ini bukan lagi zamannya berbicara terus diGUNTURkan tauk (GUNTUR : Markas PM -tentara sialan- yang pada masa ORBA dijadikan tempat untuk menculik dan membunuh aktivis. bahasanya encing Soeharto sih diamankan)…
Woi masih takut ya? atau segan kalo gw baca? tenang aja kawan hehe…
Salam dan Tabik
–Orang yang sedang berangan2 mempimpin “gerilya pemikiran” untuk melakukan dekonstruksi atas segala hal yang menyebalkan–