gelisah

Sedang mendengarkan lagu kesukaan seorang teman, Cahaya Bulan. Heggy juga suka lagu ini, kontemplatif dan bikin mudeng, kalo ternyata selama ini kita lebih banyak ngabisin waktu untuk hal2 yang gak penting dan lebih suka berkutat ‘hanya’ dizona nyaman kita. Kampus, rumah, perpus, mushalla, tempat hang-out, warnet, kantin, klub malam, etc. Kita jarang berkelana ke dunia2 baru yang sebenernya related bgt ma apa yang kita pelajri lewat buku2 tebal dan rumus2 njelimet dalam kelas.

Sayang…kita mungkin keburu puas untuk membatasi alam pikiran kita berkelana. Usahlah seperti Socrates yang seharian menanyai orang2 dipasar, agak ektrem juga kalo harus kayak Nietzsche yang saking kritisnya dengan dunia maka ia mempertanyakan segala sesuatu. Kita terlalu jauh dnegan itu. Ya?

Sedang mencari orientasi yang selalu harus diperbaharui masanya, agar tak salah melangkah. Agar tak perlu merangkak dari awal ketika ternyata sudah jauh aku tersisih. Ittijah…
Kata seorang dosenku ketika kutanya padanya bagaimana mendngarkan dan membedakan suara hati dan selain itu? Ia menjawab bahwa suara hati yang berasal dari beningnya nurani, akan selalu hadir didetik pertama kita melakukan satu hal. Kita selalu mendengarnya berbisik, sayangnya banyak yang terlalu peduli dengan suara nurani. Kita, terkadang menjadi pembunuh. Pembunuh karakter kemanusiaan kita sendiri. Pembunuh ‘suara Tuhan’. Dan sayangnya, kita terlalu terbiasa membunuh. Hingga tak tersisa lagi ruang untuk merasa bersalah dengan itu.

Naïf memang isi tulisan ini. Klise kalo kata orang kebanyakan..tapi yang klise itu ternyata seringkali yang benar. Apakah saat membca tulisn ini kau sedikit atau sekellebat saja membenarkannya kawan? Tidakkah itu pertanda bahwa kaupun sama naifnya sepertiku? Tiba2 jadi pengen bgt kutip Cahaya Bulan disini. Ironi…

Well..penulis juga gak pernah tau kapan pertanyaan dan kegelisahan ini akan bisa terus dipelihara. Manusia..diberikanpilihan oleh Tuhan, sayang, karena alasan yang kadang beyond belief, kita memilih untuk jadi aneh,jadi tutup kuping ma gelisah.

Sekarang hg gelisah…waktu heggy dikampus akan habis dengan segera. Secepat itu pula, kegelisahan yang selama ini dipelihara di dada akan pergi?lucu ya..karena kita selalu punya pemeo bahwa kegelisahan menggelora dan ideology hanya monopoli anak2 muda yang berada dlam kungkungan menara gading kampus. Diluar sana? Itu semua barang usang tak terpakai..karena takmenghasilkan uang.berbicara ttg idealisme, orang2 psikolog berarti org2 paling hypocrite secara moral ttg ini. Psikologi, mengajarkan kita pada aktualisasi, pada percaya pada kemampuan diri, pada determinisme individu. Bukan pada uang atau system yangberada diluar. Nyatanya? Tuntutan untuk makan tetap tak tergantikan dengankebutuhan lain.Toh aktualisasi diri tidak hanya kepunyaan orang berkantong tebal bukan?

Bisa ga ya bertahan hidup dengan kegelisahan dan kenaifan2 ini? Walaupun itu berkonsekuensi…
Adakah konsekuensi yang selama ini coba kta asumsikan terjadi, gak akan terjadi di hegy?
Hehehe..tertawalah kalian yang membca blog ini. Ini memang bukan gugatan. Hg gak pernah bermaksud menggugat orang2 diluar sana yang tidak ‘seirama’ dgn pikiran ini. Ini hanya cara bagaimana gw mengkonstruk realita dan menggunakannya sebagai pelajaran untuk diri sendiri

Tulisan ini, kudedikasikan untuk mereka yang gelisah. Gelisah dengan semua yang ada, yang tidak benar (tolok ukurnya moral dan etika umum).

Leave a Reply