psikologi versus geofisika

Satu jam lewat beberapa menit, kawan lama berbicara ditelfon. Lama dan mengesalkan. Mengesalkan karena dia berputar, dan gw gak paham juga. Lingkaran, diagram venn, semesta, diri sendiri. Ahhh…egois sekali. Geofisika aja belajar untuk aware ma yang lain..

Kadang jadi bingung juga, apa benar psikologi sudah mengajarkan agar manusia2 yang berkutat dgn konstruk empati itu benar2 sudah halus hatinya? Perasaanku kok malah sebaliknya ? lebih halus mungkin iya, tp hanya sampai di tataran itu. Tidak lebih.

Tidak bijak menyalahkan sistem dan fakultas. Itu gak ada artinya tanpa kontribusi dan gerakan dari manusia2 yang membentuknya.

Tp apa yang adnan bilang, mbikin heggy jadi mikir. Satu hal yang dari dulu coba disupres karena rasnya mengafirmasi hal itu jadi aib tersendiri..

Bagaimana mngkin aku melupakan bahwa menjadi fleksibel juga adalah pelajaran yang diajarkan dalam universitas kehidupan?

Aku sudah pergi sejauh ini, dan smpai saat ini msh bertanya, apa yang sudah kudapat, akan diapakan, mau kemana, untuk apa dan siapa.kenapa jalannya begini..

Hei..aku kan harusnya dah masuk tahapan perkembangan lain dari Erikson. Kokmasih di identity confusion ya?

Sejujurnya, menikmati galau dan rindu akan jawaban2 itu enak lho..terus krisis..tapi ini buat gw jadi insecure (seeking for help Cuma untuk yang berani. Seeking for friends for those who spoil, avoiding? Hehe…)

Tau ah ngomong apa !yg penting krisis….hehe

Leave a Reply