Ia
Ada kalanya, hati ini begitu kuat menantang badai…
Tak peduli pada banyaknya rintangan terhampar dihadapan
Tak ambil pusing pada cemoohan
Menutup telinga rapat-rapat pada rasa pesismis yang mereka lontarkan
Sesaat, lidah menjadi kelu
Hati berubah biru
Dan telingaku kebas pada semua kata dan doa
Tapiā¦
Bahkan di saat tergenting dalam hidup
Kala semua pergi, meninggalkan sedikit perih
Sang waktu bahkan terasa tak berpihak
Dan desau angin malah terkesan menertawakan, nyinyir..lewat deru debu yang ia terbangkan..
Ia selalu ada
Disini, disana, dimana-mana
Dimana-mana aku bisa melihatnya..
Dimana-mana aku bisa merasakan…
tepukan bangga dibahuku
Belaian lembut pada jiwaku yang tandus
Pada hatiku yang kadang menafikannya dengan sengaja
Bisikan semangat terhebat tetap datang dariNya, meski kadang kutulikan telinga
Hebatnya, Ia tetap memelukku..
Memeluk mimpi-mimpiku
Memeluk semua indah mimpi berajut harap
Menyadarkan, menenangkan, memberiku selaksa tempat berteduh
Berteduh dari tajamnya rinai hujan putus asa
Bersandar pada kukuhnya topangan janji
Membuatku kembali bersinar setalah masa redup itu pergi
Menenangkan, dan berkata bahwa aku tidak sendiri..
Ada Ia, selalu ada…
Ia, yang pernah berjanji
Bahwa ketika kaki ini melangkah untukNya
Maka akan kudapati bahwa itulah sebenar-benar kemenangan
Jual beli paling menguntungkan…
Ia, sang pemeluk mimpi. Allahu Robbi.
November 16th, 2007 at 8:36 am
karena tak pernah pantas harap pada sesuatu
kecuali pada Sang Pecinta
karena tak pernah puas mengejar apa yang kita
inginkan
selain mengejar cinta Sang Pencinta
karena tak akan pernah ada kata setia
kecuali jika diikat dengan jual beli dari Nya
Maka jadilah aku…
disini
Walau sering merasa sendiri
walau bahkan jatuh berkali-kali
walau dengan asa yang hampir mati
berusaha hingga sudah tidak lagi punya apa-apa
“mastatha’tum”
namun ketika kita