Ia

Ada kalanya, hati ini begitu kuat menantang badai…

Tak peduli pada banyaknya rintangan terhampar dihadapan

Tak ambil pusing pada cemoohan

Menutup telinga rapat-rapat pada rasa pesismis yang mereka lontarkan

Sesaat, lidah menjadi kelu

Hati berubah biru

Dan telingaku kebas pada semua kata dan doa

Tapi…

Bahkan di saat tergenting dalam hidup

Kala semua pergi, meninggalkan sedikit perih

Sang waktu bahkan terasa tak berpihak

Dan desau angin malah terkesan menertawakan, nyinyir..lewat deru debu yang ia terbangkan..

Ia selalu ada

Disini, disana, dimana-mana

Dimana-mana aku bisa melihatnya..

Dimana-mana aku bisa merasakan…

tepukan bangga dibahuku

Belaian lembut pada jiwaku yang tandus

Pada hatiku yang kadang menafikannya dengan sengaja

Bisikan semangat terhebat tetap datang dariNya, meski kadang kutulikan telinga

Hebatnya, Ia tetap memelukku..

Memeluk mimpi-mimpiku

Memeluk semua indah mimpi berajut harap

Menyadarkan, menenangkan, memberiku selaksa tempat berteduh

Berteduh dari tajamnya rinai hujan putus asa

Bersandar pada kukuhnya topangan janji

Membuatku kembali bersinar setalah masa redup itu pergi

Menenangkan, dan berkata bahwa aku tidak sendiri..

Ada Ia, selalu ada…

Ia, yang pernah berjanji

Bahwa ketika kaki ini melangkah untukNya

Maka akan kudapati bahwa itulah sebenar-benar kemenangan

Jual beli paling menguntungkan…

Ia, sang pemeluk mimpi. Allahu Robbi.

One Response to “Ia”

  1. A-yi Says:

    karena tak pernah pantas harap pada sesuatu

    kecuali pada Sang Pecinta

    karena tak pernah puas mengejar apa yang kita

    inginkan

    selain mengejar cinta Sang Pencinta

    karena tak akan pernah ada kata setia

    kecuali jika diikat dengan jual beli dari Nya

    Maka jadilah aku…

    disini

    Walau sering merasa sendiri

    walau bahkan jatuh berkali-kali

    walau dengan asa yang hampir mati

    berusaha hingga sudah tidak lagi punya apa-apa

    “mastatha’tum”

    namun ketika kita

Leave a Reply