Sudah waktunya semua andragogi
kadang ada saatnya kita bisa merasa kesal dengan teman2 sekitar kita…bahkan yang paling dekat sekalipun. Potensi2 konflik itu seringkali timbul karena perbedaan karakter, cara pandang, dan mungkin juga ideologi??
Lucunya, konflik yang mungkin timbul kadang gak melulu dari hal yang besar dan berpotensi menimbulkan masalah. Hal2 kayak gini baru aja hg alami. Pas kena (liat ding!) masalah2 kayak gini jadi pengen nangis campur ketawa. Gimana bisa dikasih masalah besar, kalo untuk masalahyang menurut definisi hg bukan big deal malah digede2in. Kan bingung….
Tau gak, metode pembelajaran andragogi (pembelajaran orang dewasa) itu makany penting bgt untuk dipelajari dan dimaknai biar bisa dipake, jadi gak puas sampe tau dan bermain ditataran kognitif aja! Tp beneran di aplikasikan. Ini catatan khusus ni buat anak pSiko.
Kenapa juga andragogi penting, terutama dalam kehidupan bersama dan bekerja dalam kerangka kerja sama (berjamaah), karena lwt model pendidikan dan learning-nya orang dewasa banyak hal esensi yang bisa jadi modal untuk kita hasilkan keputusan yang jauh lebih kaya (secara maknawi dan secara konkrit; ide, kerja lapangan). Ya iyalah! Andragogi kan menggunakan basis pengalaman sebagai satu pemicu untukbelajar, jadi setiap orang gak diasumsikan bodoh sama sekali, melainkan setiap orang sudah punya skema dan kosntruk tertentu ttg satu hal ttt juga, berarti mereka2 yang dewasa menggunakan pengalaman, dan hasil belajar terdahulunya dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah yang timbul saat ini.
Apa sih korelasinya dari hasil curhatan di paragraf pertama dgn penjabaran ttg konsep pembelajaran andragogi ini?
Hmm..simpel kok, curhatan paragraf pertama berisikan pengalaman hg ttg teman2 yang (kayaknya) kalang kabut saat ada seorang teman lainnya yang mengambil keputusan ttg hidupnya dan keputusan itu diasumsikan merugikan byk pihak (gak Cuma ngaruh ke kehidupan si pengambil keputusan, tp bigger than that). Sayangnya, teman2 yg Cuma bisa melihat dan mendengar si pengambil keputusan bisanya bikin barrier dulu, ya..walaupun setelah sibuk membuat excuse dan bingung dgn jawabannya mereka bisa juga terima hasil keputusan teman kami itu. Sayang bgt kalo hal2 kayak gitu Cuma diliat dari sisi2 yg praktis aja. Hg secara pribadi cukup kaget dgn reaksi dari teman2 si pengambil keputusan, soalnya hg pikir, si pengambil keputusan itu sudah dewasa, sudah punya cukup banyak pertimbangan dan pastinya ada pengalaman tertentu yang menyebabkan dia bisa mengambil keputusan seperti itu dalam hidupnya.
Terlepas dari keputusannya bisa merugikan banyak pihak (yg hg liat sih 2 pihak), itu perkara yang justru bs diselesaikan jika pendekatan yang dipakai ya andragogi. Gak perlu ada prejudice dan barrier untuk bisa menyelesaikan masalah kan?
Andragogi bisa bikin kita lebih objektif karena kita smua sama2 tau, gk ada benar salah ketika yang jadi core seseorang adalah pengalaman, itu pure pilihan dan skema pribadi. Memang, ada banyak hal yang gak bisa Cuma pake pengalaman aja, karena pengalaman juga sebenarnya kan selalu ada nilai2nya…
Tapi setidaknya, untk bisa nyaman dalam berbicara dgn orang lain, kita harus punya view yang sama, urusan interpretasi itu nanti.
Pas udah cerita beres, maka interpretasi pribadi dibolehkan. Harus malah! Karena dgnpunya interpretasi pribadi kita jadi gak kayak kayu dilaut yang bisa diombang ambing gitu aja, tp punya gaya dan prinsip sendiri, masalahnya kdang timbul interpretasi sendiri sebelum smua masalah (atau yang diasumsikan as a problem) kegambar semua….ini yang bikin repot!
Hmm…hg nulis kayak gini sebenrnya sih karena terinspirasi dari seorang teman, teman itu bilang kalo hg bisa nyambung pas ngobrol ma dia, padahal jarang ada yang bisa bikin dia bicara panjang dan nyaman.
Mengutip kata2 teman hg tersebut, hg itu punya frekuensi yang bisa disetel kemana2 (ye,.,berasa radio deh!hehehe..).
Padahal, kuncinya Cuma satu. Belajar untuk liat orang, konsep, ide, atau cerita dengan gambaran besarnya..dan jangan judge dulu.
Hmmm…salah sih klo dibilang hg nyambung ke semua org dgn segitu byk frekuensi yg harus ditangkep, banyak kok masa2 dimana hg malah gak setuju sama sekali dgn konsep dan pandangan orang lain, tp ya gitu…klo andragoginya lagi gak mau dipake, ada sat metode yang gak kalah ampuhnya, walopun yang ini mah kebangetan norak dan kekanakannya: berteriak yagn jujur sampe semua orang tau klo loe suka atau gak suka, dgn kata lain metode yangini dinamakan jujur yang agresif! hehehe…
Serius deh, jadi orang yang mengamalkankonsep belajar orang dewasa gak akan rugi kok! Dan sebenernya, dalam konsep andragogi gak Cuma pengalaman yang jadi core. Klo mau di breakdown satu2, didalmnya ada makna tsiqoh (percaya), ada makna mandiri, ada makna jujur, ada akan bertanggung jawab. Dan kesemua konstrak tadi penting untuk dipunya sama semua orang, apalagi yang jelas2 ada dalam satu kelompok kerja.
Harapannya, dengan berkaca dari pengalaman dan konflik yang ada,semua orang mau belajar untuk bisa memaknai konsep belajar orang dewasa. Dan semoga dgn semua orang bisa amalkan, hal ini bisa jadi budaya kerja. Gak Cuma jadi nilai individu, tp jadi nilai kelompok, nilai jamaah, dll.
Jujur ya, klo heggy sih capek diperlakukan jadi anak kecil yang Cuma bisa diperintah sana sini dan gak ngerti apa2, lelah juja ma masalah yg datang dna akarnya sama2 juga, masak yang lain diem aja?! Dan ngerasa baik2 aja…
Bangun dong kesadaran dirinya! Kita kan bukan robot yang fungsinya mekanistis, kita manusia lho…dan salah satu previlage manusia yang dititipkan Allah al Khalik kan otak, otak yang fungsinya untuk berpikir (berkesadaran mungkin?!) dan belajar.
So guys, jgn mentok di satu kotak dan ngerasa puas ya…
Dunia kan bulat, analogiin aja hidup juga gitu. Berputar dan berkeliling kan gak ada salahnya. Kalo memang niatnya Lillah, bukankah hasil akhirnya Cuma ada dua?
1) kembali ke tempat mula kita berpijak (karena ternyata itu yg esensi)
2) semakin jauh dari tempat semula dan menemukan mana yang harus kita benar2 internalisasi (tepatnya, re-internalisasi)
wallahu’alam
seperti biasa, racauan kali ini ada to-nya:
didedikasikan untuk saudara2 seperjalanan yang sempat kebakaran jenggot (hihi..masak kebakaran jilbab?!) karena satu dan lain hal. Gals, hg Cuma pengen bilang klo menghormati itu beda dgn sikap tidak peduli. Menghargai berarti memahami betul bahwa setiap orang punya preferensi ttt. Dan kita gak bisa masuk ke wilayah pribadi seseorang dgn paksa. Bukankah keindahan Islam terletak pada konsep egaliter, ikhlassuniyah, dan pemahaman yang baik? Maka bersabarlah untuk banyak hal yang tidak berjalan sesuai keinginan…
hanya ditangan Allah sajalah semua harap dan doa kita sandarkan. Ya kan? Kewajiban kita habis di usaha dan doa, sisanya Allah saja…
tuk satu perempuan yang pernah ku ajak ngobrol bada shalat tarawih:
bu, kita sama2 belajar. Hg as a person menghargai tindakanmu, semoga benar2 diniatkan untuk belajar ya…tau gak, aku dapetin semua yang kamu bilang itu setiap pekannya. Makasih ya secara gak langsung semakin meneguhkanaku bahwa belajar itu harus serius, dan itu memperkuatku untuk iltizam. Iltizam disini, karena ternyata it’s not just a matter of what group u belongs to, it rather means about your will to get closer with Allah, the Lord.
Piss ya neng!!
November 16th, 2007 at 8:50 am
tips nya boleh dicoba, tuh !
ehm,jadi enak nih….
November 24th, 2007 at 5:41 pm
yupzs
November 26th, 2007 at 6:37 pm
hehe…kadang aku bingung, gimana ya aku bisa dapet ide untuk terus nulis semua ini??