In the name of Allah..
The most gracious, the most merciful
Father oo..father, why do you do it?
Why do you carve the statues of wood?
Father oo father. Why do you do it?
Why do you bowing and pray?
To all those of empty God you have made?
Will never such far a better way
There’s only one God, Laa Ilaha Illalah..
Lord above the earth and sky
He will not fade, and He will not die
People oo people
Why do you keep your faith to your
~ini syair lagu afwan lupa..punya syapanya
Hati yang mendnegar syair diatas, akan bisa menuliskan kebaikandan mengambil hikmah yang dalam…
Pernah gak, mencari Tuhan?
Dalam artianyang sebenernya, sama seperti yang Ibrahim lakukan dulu.
Ia merenungi alam, melihat ayahnya, menyaksikan masyarakat sekitar melakukan pemujaan, melihat hilang dan terbitnya matahari, bulan, bintang..
Pernah?
Mungkin, hanya sedikit orang yang mencari Tuhan yang tersembunyi di nalar dan akal…juga kedalaman perasaan.
Tapi Ibrahim alaihi salam melakukannya…
Dia melihat matahari, merasakan panasnya membakar tubuh, garang, tak bisa dipandang dnegan mata, hanya dirasakan, begitu agung…
Tapi kenapa keagungannya tidak lama? Begitu malam menjelang, ia akan tertutup oleh pekat. Digantikanoleh rembulan…
Kalau begitu, bulankahyang lebih hebat? Yang lebih berkuasa? Buktinya, ia yang menyinari malam, sehngga malam menjadi benderang, menjadi indah? Dan ia berhasil menaklukkan sang matahari..? benarkah..? tapi kenapa bulan perlu ditemani oleh gemintang? Apa ia tak bs menebrkan keindahan jika ia sendiri? Apakah ada Tuhan yang begitu tergantung pada yang lain? Tuhan macam apakah itu?
Esok, bulan, matahari dan gemintang tetap begitu…tak ada yang benar-benar berkuasa…semua hanya bergantian berjaga, semua hanya melakukan hal yang rutin..semua hebat, tapi tidak benar-benar berkuasa…
Dan Ibrahim melihat ayahnya,
Mematung dan menyemabh hasil buatannya sendiri. Ibrahim mungkin bertanya
” ayah..kenapa kau menyembah buatanmu? Apa patung itu bisa menberi kebaikan maupun keburukan untukmu?”
Bahkan, setelah Ibrahim nan cerdas menghancurkan dan dengan telak ’menyadarkan’ ayahnya..sang Ayah tetap dengan kedegilannya
” bagaimana mungkin patung itu bisa menghancurkan patung-patung lainnya? Patung besar itu bahkan tidak bisa bergerak!!”
Telak!!
Bahkan ketika lidah yang tidak bertulang dan bisa diajak berbohong tak kuas menahan kata2 sejujur itu…kesadaran masih saja tak turun pada ayah Ibrahim.
Dan patung-patung kecil yang Ibrahim hancurkan, bahkan tak bisa menyelematkan diri sendiri..bagaiman mungkin dijadikansandaran bagi keselamatan banyak orang..?
Dan patung terbesar yang ibrahim sisakan, ia hanya bisa berdiam saat Ibrahim ’mengkambinghitamkannya’
Dan Ibrahimmelihat kaumnya
Menyemabh sesembahanyang mereka buat dari emas, perak, bahkan roti…
~terlepas dari manusia dizamanitu mungin tidak secemerlang sekarang dalam proses berpikir, menurutku itu bukan alibi untuk tidak memasukkanmereka sebagai orang yang benar2 degil~
Menyandarkan diri pada hal-hal yang dengan tangan mereka sendiri merek atahu bahwa itu adalah buatan tangan mereka…
Menyandarkan pada sesuatu yang bisa mereka rusak, bisa mereka makan ketika lapar..
Lalu,aku yang tersenyum mengingat cerita Tuhan Roti itu sekarang bertanya,
Ap arti Tuhan bagi mereka? Arti Tuhan bagi manusia2 modern zaman kini?
Apa?
Toh sama saja, karena mungkn kita juga menyandarkandiri pada hal-hal yang nisbi…
Sadr tak sadar…
Ibrahim yang kukuh…kukuh dijalan kebenaran setelahmencarinya dnegan perenungan…dengan ikhtiar tidak main2…kebenaranyang bahkan harus dibayar dnegan nyawa yang harus siap dihilangkanoleh api…dibakar hidup2…
Dan ia tidak gentar. Kadang, aku bertanya, seperti apa rasanya bs memiliki kekukuhan se-karang (batu karang) itu?
Ia mencari dengan payah, ia dapatkan, dan ia pertahankan…ia jaga dnegan murni karena ia meyakini…
Dak keyakinannya dibayar lunas oleh Tuhannya dengn lunas.
Seperti apakh rasanya beanr-beanr yakin?
Seperti apa rasanya benar-benar taqwa?
~Allah…aku menghentikan tulisanku sesaat, karena tak sanggup rasanya menulis kenyataan bahwa sekarang pun aku melihat bnyak kebodohan, dan tanganku tak bisa berbuat banayk…termasukkebodohan2ku sendiri.ah…merugi!!
Tapi kenapa, kita msh juga menolak ya? Apakarena kita tak seberuntung Ibrahim, tak seberani Ibrahim…mencari kebenaran dengan tangan dan usaha sendiri? Benarkah? Haruskah?
Aaah…nabi, amat mudah menasyidkan ”belajar dari Ibrahim”
Tapi sungguh sulit menjadikanitu sebagai pengingatan..
Aku mungkin tak seberuntung engkau wahai kekasih Allah..tapi, setidaknya jejakmu masih jelas terlihat didepanku,kan kuikuti dengan sepnuh hati.. sebisaku.