aku tahu rasanya

(sebelumya, Cuma mau kasi tau, tulisn kali ini amat abstrak, amat aneh kali ya?..dan amat personal, hehe…tapi gak apa, kalo mau baca, baca aja. Syapa tau jadi bisa ambil sesuatu)

Hari ini heggy nonton Oprah. Dan tebak, tentang apa? Hari ini topiknya tentang gangguan kejiwaan bipolar. Manic depresif, bukan begitu wahai anak2 psikologi?

Hmm…gw secara pribadi sebenernya gak gtu tertarik ma klinis dan psikologi atau pembahasan ttg gangguan kejiwaan. Tapi karena yang dibahas bukan Cuma penyakitnya, melainkan juga perasaan keluarga yang salah satu anggotanya menjadi penderitalah gw tertarik untuk tetap didepan tivi, anteng menyimak.

Ada satu kalimat yang berusah untuk gw ingat dari talk show Oprah tadi, tapi entah kenapa. Sekeras apapun gw mengingat, gw tetep lupa. Yang malah terngiang2 malah kalimat yang sepintas gw simak “ tak akan pernah menyerah dan berharap. Dan harapan itu bukan rencana”.

Hfh…tak akan pernah menyerah. Itu berat bung.

Kembali ke talk show tadi, ada satu istri dari penderita gangguan bipolar yang bercerita ‘betapa berat’kehidupannya. Anyway, mereka dah bersama selama 11 tahun. Si istri merasa bahwa dia gak pernah tau perasaan dan emosi si suami yang kadang2 naik turun, sangat cepat berubah, dan kadang bisa aja membahayakan jiwanya (dan anak2 mereka). Mendnegar cerita si istri tadi, tanpa bisa gw cegah, diri ini mengingat seoarang perempuan tangguh yang sudah lebih dari 21 tahun menjadi istri dari penderita gangguan jiwa tertentu. Geez..

Apa yang buat mereka begitu kuat bertahan dgn keadaan seambigu itu?

Pernah iseng satu kali nanya ma orang yang bersangkutan, dan tau apa jawabannya?

” heggy, cinta itu gak kenal waktu, dan gak liat kondisi”.

Cinta.

(Cinta emang Cuma bisa bikin susah!! Gak ada bagus2nya punya rasa cinta, gak ngasi kita kelegaan hati. Itu mungkin sebabnya, gw selalu berdoa jadi perempuan tanpa rasa cinta berlebih. Gak guna.

Tapi sayang, doa heggy gak Allah ijabah. Mungkin karena Allah tau, suatu hari gw akan butuh cinta. Untuk jadi cambuk, untuk jadi energi, ditujukan untuk semua makhluk maupun yang spesifik untuk orang tertentu)

Pernah kepikir gak, 11 tahun atau 21 tahun atau bahkan seumur hidupnya para perempuan hebat tadi gak akan pernah dapat suami mereka secara utuh, dan mereka tetap bertahan. Apa-apaan ini?!

Dulu, gw Cuma bisa menggeleng…gak ngerti. Terbuat dari apa sih hati perempuan2 itu? Tahan sekali mereka hidup dalam keguncangan psikologis, terancam kapan saja secara fisik (plis…orang2 dgnganggguan jiwa itu kan bisa timbul waham dan gangguannya kapan aja).

Tapi entah kenapa gw ngerti. Gw faham hari ini. Gw ngeh, bahwa ada banyakhal yang pertimbangannya gak Cuma pake akal aja. Ada pertimbangan konteks, nilai2 sosial dan mungkinyang terpenting: hati. Cinta-kah? Wallahualam.

Layaknya para perempuan2 hebat tadi yang belajar untuk menerima keadaan mereka. Agaknya gw juga bisa begitu. Belajar untuk menerima. Belajar lebih sabar.

Kembali teringat pd satu pertanyaan konyol dikala gw masih sma

”ma, masih ada harapan gak?”

”gak tau deh gy, tapi mama percaya kok, ini yang terbaik. Kalaupun gak dikasi sekarang, gak papa. Mungkin mama dah capek nunggunya. Tapi kita kan sudah terbiasa. Biar itu jadi kejutan aja”

~tulisanini untuk satu orang yang sudah mengajariku sabar dan cinta adalah dua term yang powerful sekali. Dan harapan? Itu memang harus ada. Jangan pernah pupus!.

Hmm…hidup memang harus berkompromi, termasuk dengan sang pemilik rencana. Wahai Allah, aku belajr berkompromi kok…

~ma, makasi ya…

One Response to “aku tahu rasanya”

  1. Si Cune Says:

    aah..
    speechless bacanya..

Leave a Reply