mari kita berhenti sejenak

Diri ini kadang cukup memaksakan, sadarkah kau wahai kawan?

Mari kita berhenti sejenak, karena kita sudah relatif jauh berjalan dalam gerbong kehidupan. Harus ada waktu untuk sekedar berhenti. Bukan, bukan untuk beristirahat selamanya dan tidak produktif kembali, namun justru untuk melihat kebelakang, menelusuri stasiun-stasiun mana saja yang sudah kita lewati, melihat jejak-jejak yang sudah kita tinggalkan, mengevaluasi sejauh mana semua tindak dan sejarah itu tertoreh. Mana yang benar2 dapat dipertanggungjawabakan, mana yang kecelakaan, mana yang masih bisa kita perbaiki kemudian.

Kita terkadang terlalu lelah. Lelah karena terlalu banyak suara-suara memekakan telinga, sehinga tanpa sadar kita tak lagi mendengar suara2 hati. Padahal itu yang penting. Dalam satu mata kuliah kode etik di kampusku, hati nurani akan selalu memberikan suranya, kita suka atau tidak, catatannya, kita MAU mendengarkan. Namunkadang, suara memekakan itu terlalu dominan.

Kita terkdang terlalu lelah. Lelah karena rongrongan dari sekitar yang kadang terlalu menyita banyak perhatian kita. Mereka yang berbiicara seenaknya, menguarkan permintaan dan rongrongan tanpa ilmu, tanpa dasar, dan tanpa belas kasih. Lelah karena mereka tak juga kunjung faham akan keterbatasan yang kita miliki, yang manusiawi.

Kita secara sengaja melewatkan banyak sekali pemandangan indah. Bukan karena tak ingin melihat, namun karena memang tak sempat.

Jadi,mari kita berhenti sejenak. Disini! Saat ini!

Kita memerlukan waktu untuk sekedar melepas kepenatan hati, mencoba menajamkan kembali nurani. Kita memang membutuhkan saat-saat itu!

Saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang membunuh, rutinitas yang mereduksi kepekaan transendens kita, saat dimana kita ’tega’ melepaskan beban dakwah yang selama ini kita pikul dengan pundak kita yang semakin lelah..

Ini saatnya, kita bermain di telaga bening. Perhatikan kawan, wajahmu penuh keringat, peluhmu bercucuran, dan ragamu? Tak lagi terurus..

Lepaskan, lepaskan bebannya. Sejenak saja…percayalah. kita memang membutuhkan sat-saat itu!

Dan dalam istirahat kita, buka kembali peta perjalanan yang kita miliki. sudah berapa langkah kita buat? Akan berapa banyak lagi yang harus kita tempuh? Cukupkah perbekalan kita?. Perhatikan kawan, alam tempat kita bernaung ternyata sudah banyak berubah. Pentingkah kita membuat penyesuaian?

Ternyata, kita memang membutuhkan saat-saat itu! Saaat dimana diri melakukan self-talk. Memproyeksikan diri secara jujur dan menjadi lebih objektif dalam menilai.

Adakah yang masih menganggap bahwa berhenti sejenak adalah tabu? Adalah pertanda kemunduran, bahkan futur?

Entah kenapa, otakku mengatakan bahwa langkah terbaik didapat dari hasil perenungan dan timbangan antara keakuratan data, keyakinan hati, dan waktu yang mendukung. Dan bukankah waktu berhenti sejenak itu memberi kanal bagi semua fungsi jiwa raga untuk lebih optimal?

~Seorang heggy tidak pernah heran apabila melihat atau mendengar cerita tentang para pengemban amanah yang terkadang ”kabur”. Sesungguhnya, mereka yang dipersangkakan demikian tidak berniat kabur. Mereka (kami) hanya membutuhkan waktu untuk sendiri. Untuk kembali menata hati, menjaga keseimbangan kognisi, dan menunaikan kebutuhan dasar. Menarik nafas panjang.

Dan percayalah, mereka (kami) akan kembali. Membawa serta semua amunisi dan tidak lupa si idealisme terpuji.

~ tulisan ini ditujukan untuk Adhi, dahlia, dan Fio, plus semua anak pusgerak 2008 yang amat sangat kubanggakan (jie…).

Ps: heggy gak sepakat ma kata2 ”kerja cerdas, kerja keras, dan kerja ikhlas”. Trus kapan mainnya? Haahhh..payah! mending ditambahin juga tuh kalimat ”…dan bermain bebas!” hehe…piss ah!!

One Response to “mari kita berhenti sejenak”

  1. Pandu Says:

    ada buku bagus judulnya “Berhenti Sejenak : Recik-Recik Spiritualitas Islam” karya Abu Ridho. Buku yang bagus bagi yang ingin merecharge kembali energi ruhiyahnya.

Leave a Reply