Hari ini, 8 Maret. Ada yang tau hari apa (bukan cuma hari Sabtu lho)? buat yang tau ini Hari Perempuan sedunia, yup! Kamu benar!!, tapi kayaknya masih ada ya yang gak tau kalo tanggal 8 Maret itu Hari Perempuan. Hm…mumpung ada momennya, seru juga kali ya kalo kita mencermati apa-apa aja sih yang udah kita lakukan (sebagai perempuan) setelah selama ini terlahir dan terberi dengan gender perempuan. Sebagai perempuan, tentunya banyak yang bisa kita lakukan. Kalau jadul (jaman dulu) perempuan tuh identik dengan idiom : sumur; dapur; tempat tidur, sekarang pasti itu semua udah berubah (atau..masih ada yang berpikir begitu?hmm…). sumur,dapur dan tempat tidur itukan merujuk ruang domestik, yaitu rumah. Tapi apa bener, perempuan itu emang ’jatah dari sononya’ cuma boleh ngurusi hal-hal yang berbau domestik alias lokal? Duuh.. lingkup terbatas amat !?. Terus, apa bener kalo laki-laki itu justru berada di kontinum sebaliknya dengan perempuan, mereka punya previlage lebih untuk mengurusi ranah publik, dan bersinggungan dengan segala hal yang cakupannya lebih luas, lebih njelimet, dan lebih segalanya (hayo…contohnya apa coba?).
Waah…kalau masih ada yang berpikir kayak gitu hari gini, sayang juga ya. Kita liat lebih jeli yuk. Mulai dari lingkup terkecil kita aja deh. Rumah misalnya. Apa iya, sekarang ibu-ibu kita murni ngurusi rumah aja? Kayaknya nggak deh!. Tanpa menegasikan adanya ibu rumah tangga (thanx mom!), pasti ada dong ibu-ibu yang berkarier di luar, menjadi bagian dari dinamisnya kehidupan dalam lingkup lebih luas, dan kalo mau nulisnya jadi lebih heroik, kita bisa sebut mereka sebagai Super Mom!hehehe…
Di zaman ini, mungkin tinggal hanya tinggal sedikit orang yang masih menegasikan keterlibatan perempuan dalam segala aspek hidup (pengalaman pribadi penulis nih). Padahal, udha jelas banget banyak contohnya, mulai dari tukang sayur, Supir Bus TransJakarta, Pilot, Astronot, Insinyur, Presiden (patut bangga nih, meskipun baru sekali dan gak bisa dibilang sukses-sukses amat kinerjanya. Hehe..piss bu!), Dai’ah, tukang ojek, sampe Ketua LBH, itu tuh pernah (dan ada yang sedang) dipegang sama perempuan. Jadi Koordinator Pusat Kajian dan Studi Gerakan BEM UI juga ada, huhhuhu..(lokal bgt!), oh iya, saat tulisan ini dibuat ada 2 perempuan yang lagi maju jadi Ketua BEM Fakultas lho! Bravo!. Nah, dari contoh-contoh yang udah ditulis, ketauan kan kalo ternyata perempuan tuh bisa juga berkontribusi optimal dalam kehidupan yang lebih kompleks. Mitos tuh kalo ada yang bilang perempuan mah main-nya di rumah aja!deu…jadul amat!. Sekarang, perempuan dituntut untuk lebih maju, lebih melecut diri untuk bisa equal dengan apa yang menurutnya gak sama (laki-laki? Ya emang gak sama!tapi kan setara…n_n), jangan Cuma bisa berkoar-koar dan ambegan kalo diperlakukan gak adil. Just prove it kalo kita nih sebagai perempuan,emang bisa melakukan hal yang sama baiknya dengan laki-laki disegala aspek kehidupan, bahkan buktiin kalo kita tuh lebih baik!. Ada fakta narsis tentang ini, dalam satu perkuliahan (kuliah Anak Berbakat di fakultas Psikologi), ada teman kuliah penulis yang bertanya ma Bu Dosen, ”Bu, anak berbakat itu dapet turunan gen positif dari siapa ya? Dari ayah atau dari ibunya? ”. Good news untuk perempuan, karena ternyata yang berperan dalam menurunkan kepandaian dan gen positif itu cenderung dari pihak ibu! Yeeei!! Karena menurut penelitian, perempuan itu memang punya tingkat kekebalan terhadap stress yang melampaui laki-laki (selain angka harapan hidup yang juga lebih lama), viva perempuan!. Nah, sekarang dah tau kan, kalo perempuan tuh diberi anugerah banyak banget ma Tuhan, mulai dari resistensi stress yang lebih tinggi ambang toleransinya, toleransi rasa sakit yang juga lebih tinggi (ooh..pantesan perempuan yang Tuhan kasih anugerah untuk hamil dan melahirkan, hehe..gak nyambung!), sampai hak prerogative menurunkan gen positif ke anak. Gals, dari genetik aja kita unggul. Berarti, gak ada alasan untuk gak unggul dalam hal lain yang bisa dikejar kan?. Keunggulan, kemenangan dan pencapaian itu bukan monopoli satu gender kok! Bukan Cuma laki-laki yang bisa maju dan memimpin. Perempuan juga bisa, yang penting kita faham fungsi dan tanggung jawab kita.
Di era yang udah maju sekarang, bias gender agaknya sudah harus tutup buku deh. Itu mah isu lama yang cuma akan didengungkan sama orang-orang pelanggeng rezim seksis (ce elah bahasanya..). Sekarang, yang paling penting untuk dicermati adalah gimana nih caranya untuk bisa jadi yang terbaik, yang paling kontributif, yang paling bermanfaat dengan keperempuanan kita. Karena justru seringkali hambatan untuk berkarya optimal itu datangnya dari internal perempuan itu sendiri. Merasa gak cocoklah, gak didukung sistemlah, ngerasa minderlah, pundung (Sunda banget..artinya ngambek) dicap emosional dan gak rasional, dsb. Padahal, semua yang melekat dan jadi atribut kita kan sejatinya bukan halangan, tapi jadi sebuah tantangan untuk disikapi dengan cerdas, dan outputnya: kita bisa maksimal dengan apa yang sedang kita lakukan.
Terakhir, tulisan ini Cuma mau bilang kalau menjadi perempuan adalah satu kebanggaan. Kalau mau dirunut-runut dan balik ke peran orisinal perempuan yang diatur ma Islam, perempuan tuh punya beberapa tugas penting: Ummul madrasah (sebagai tempat belajar utama bagi anak-anaknya, role model, dll), Zaujatun Muti’ah (istri yang taat dan menjaga kehormatan suami dan dirinya, dan Mar’atuss shalihah (perempuan shalihah). Cukupkah sampai disitu? Jawabnya: Big NO!. Kalau tulisan tadi diatas banyak menyinggung peran perempuan di ranah publik, maka istilah yang paling sesuai menggambarkan keterlibatan perempuan di aspek publik (kalo pake istilah di PPKN dulu, IPOLEKSOSBUD) adalah Islahul Ummah, artinya, perempuan juga berkewajiban untuk memciptakan kesejahteraan dan berkontribusi bagi terciptanya dunia yang lebih baik, apapun caranya (salah satu caranya sih dengan nulis. Karena dengan menulis, semua orang bisa tau apa yang ada dalam pikiran kita, dan bisa kasih feedback juga. Anyway, menulis itu tindakan revolusioner lho!hehehe…)
Yup, sekilas tentang opini penulis tentang perempuan. Fiuuhh…emang sih, tangan kita cuma dua, dan PR kita sebagai perempuan banyak banget! Tapi percaya deh, peranan kita sekecil apapun akan signifikan untuk perbaikan. Jangan ragu untuk bergerak, perubahan besar, kan selalu didahului langkah-langkah kecil. So, selamat mencermati pergerakan diri kita sendiri wahai perempuan! go women movement!! Gak lupa penulis ucapkan dengan bangga (plus emosi jiwa karena sedikit haru. Huhu..), SELAMAT HARI PEREMPUAN!
Heggy Kearen’s
Mahasiswi Fakultas Psikologi UI
Angkatan 2004 (doyan bgt nulis. walopun gak bagus, sing penting pede!)
Mau kasih feedback? Nih email: gagalkanhipotesafreud@yahoo.com