anak berbakat perempuan: BRAVO mbak Tia!
Kemarin abis kuliah anak berbakat. Gweez…keren parah!! Hehe, jarang2 gw merasa gak sia2 tuk dengerin dosen dikelas. Biasanya kan ada aja gtu dosenyang jadul dan gak mau nerima mahasiswanya dgn genuine. Kalo untuk mbak Tia? Hm..dia adalah satu dari sedikit dosen yang gw suka (gw suka karena emang beneran cerdas, pinter, dan humble bgt!). Kemarin tuh belajar tentang anak berbakat perempuan.
Secara general, gak ada perbedaan yang signifikan antara anak berbakat perempuan dan laki-laki. Konsep umum tentang anak berbakat itu kan ada 3 hal yg mesti dia punya:
1) IQ diatas 135
2) Punya task commitment yang tinggi (determinan untk yg dia anggap penting)
3) Punya daya kreativitas yang tinggi (fluency, elaborasi, dan fleksibilitas)
Nah, kalo ada anak/individu dgn kriteria diatas maka bisa aja disebut gifted. Tapi…ternyata ada perbedaan lho antara gifted laki2 dan perempuan. Dan ini gw suka. Kemarin, saat presentasi kelompoknya Melita (yg mana menurut gw dia juga gifted), diterangin soal 2 kecenderungan anak gifted perempuan akan ‘berakhir’ atau akan ‘merasa bagaimana’ dengan keberbakatan yang dimilikinya. Heggy lupa persis nama teorinya apa, tapi yang pertama si perempuan gifted ini akan: 1) tidak terlalu menonjolkan diri dan talentanya karena dia merasa bahwa keberbakatanya ‘tidak sesuai’ dengan apa yang diekspektasikan oleh masyarakat. Sehingga, untuk bisa diterima dan dianggap “normal” dia harus jadi ‘lebih biasa’. Shoot!!
2) Akan depresi karena ya itu tadi…(sejujurnya gw lupa teori yg kedua ini isinya apa.hehe…karena pas diterangin ini, ada satu orang perempuan dalm kelas itu yg melototin gw dari atas sampe bawah!!hehe…tenang aja, gw mah gak gak gifted kok syl.huhu..)
Apa2an nih?! By nature, mestinya semua orag itu diterima apa adanya, tanpa tendensi dan tanpa memperhitungkan atribut2 yang diberikan oleh konteks sosial. Sayangnya, kalimat gw barusanitu juga salah. Konteks sosial ada lebih dahulu. Sehingga gakmungkin kalo kita mau menghilangkanitu smua. Agar bisa survive, semua orang MESTI MAU GAK MAU tunduk pada norma dan konteks sosial. Tapi sejauh, sedalam ,dan sekonform apa, itu emang ada kadarnya. Dan perbedaan kadar ini yang pada akhirnya berpengaruh ma persepsi yagn dibentuk dan terbentuk Bingung ya? (sial, gimana bikin ini jadi sesuai ma yg gw mau ya?!) Intinya, keberbakatan antara laki2 danperempuan itu gak beda. Cm bedanya, selama ini perempuan tu kan banyak terbentur ma conditional factor yg gak ngedukung: Anggapan masyarakat yg menegasikan peran perempuan bisa lebih, konsep diri perempuan itu sendiri yang emang rendah dan gak ideal, atau self-acceptancenya yang jga rendah, atau bahkan konsep diri ini yg dikonstruk untuk begitu?bisa jadi.., selain itu, jgn lupa, dunia ini masih dipandang dari sudut pandang laki2 (patriarki) dan terlalu maskulin. Hampir smua hal didunia ini memudahkan laki2. kalokata mbak Tia, ada satu contoh yg lucu. Pernah merhatiin gak,kalo dikantor ada atasan laki2 yang judes, maka bawahannya akan bisa memaklumi, tapi kalo yang judes itu atasan yg bergender perempuan, duuh…merepet semua tuh bawahanya. Ini kanjadi gak adil! Kenapa justru buat laki2 excuse itu ada? Banyak bgt pembolehan dan pemakluman yang aneh, tp buat kita jadi biasa. Karena emang dikondisikan sedemikian. Dan ketika ada yg gak konform ma keajegan itu, mulailah label devian,aneh, merusak, dll itu muncul.
Gak manusiawi. Aneh…dan gak adil.
Gak sih..gw Cuma bingung aja, ngeliat betapa sulitnya bagi seorang perempuan untuk bisa maju. Kalo laki2 katakanlah cukup bekerja sekali untuk ngebuktiin dia hebat, maka perempuan sepertinya harus bekerja 10 kali lipat lebih keras untuk ngebuktiindia bisa danjuga hebat!!fiuuhh…(jadi, kalo disekitar loe ada wanita2 hebat, mereka pastilah LUAR BIASA HEBAT!). Dosen gw yang psikolog pendidikan dan faham test dan rekrutmen orang itu berkata “ perempuan itu kalo mau diterima disatu perusahaan pastinya ditanya2, kapan nikah, kapan rencana hamil, dll. Tau kenapa? Karena saatitu perusahaannya menghitung berapa banyakkira2 waktu yagng akan terbuang untuk si karyawati ini cuti!!” Ampun… Sekarang faham dong, kenapa perempuan hebat itu pasti LUAR BIASA HEBAT! Itu karena mereka mesti berjuang untuk gak cm ngebuktiin diri, tapi juga kasi fakta bahwa semua ‘keterbatasan yg mana sebenernya anugerah’ gak akan pernah buat perempuan jadi sub ordinatnya laki2 (terutama dalam hal pencapaian danprestasi). Jadi sedih aja sih…dikampus gw ini banyak bgt potensi berbakat perempuan. Tapi karena alasan2 tadi (penerimaan, takut dianggap beda, dicap aneh, dandijauhin) banyak juga diantara mereka yang pada akhirnya memilih untuk ‘biasa aja’. Padahalmereka subhanalalh luar biasa. Segitu tuh fakultas psikologi yg rada toleran ma keanehan2 yg wajar kayak gtu, gimana fakultas lain ya?
Hmm..aku jadi inget ma Victa, Mbak Ayu, Lulu, Kinanti (apa miranti fisip HI?), Neqi, Syahidah, Viranda, Kiki, Mbak Arie, Anastasia yg sekarng di Jepang, Isye, Nunu FKM, Hening, dan Mia yg di singapur. Hhfh…mencoba memanusiakan manusia.
Dan bertambah fahamlah gw kenapa psikologiitu harus ada di muka bumi ini.
May 1st, 2008 at 9:19 am
salam..Teh,
kumaha kabar??
tulisan blog nya da pernah di upDet lagi. Sibuk terus..
December 18th, 2008 at 5:29 pm
Hmmh..emang psikologi itu penting banget terutama untuk memahami apa sihc sebenernya yang terjadi pada manusia? en yang pasti di perluin banget dalam memahami wanita yang emang imanensi banget yang sebenernya nunjukin bahwa wanita itu sebenarnya jauh lebih tangguh dari pada laki-laki kita liat ajah ibu kita tercinta..di balik segala kelemah lembutannya ada kekuatan edan yang menyokong seluruh manusia” yang didekatnya!