inggit
Ada dua orang bernama inggit yang heggy tau di dunia ini. Yang pertama mampir ke memori, adalah Inggit Suci Lestari. Kakak sepupu yang pas hg kecil dulu adalah musuh besar (dalam artian sebenarnya). Kami tidak pernah akur, saling membenci, bersaing untuk segala hal (dan dia selalu dimenangkan ma almarhum andung-nenek), dan sengke’ naudzubillah…tapi sudahlah, itu cerita lama. Sekarang udah segede ini, malah kangen bgt ma dia…
Dan tulisan ini memang tidak dulu ditujukan untuk Inggit yang ini.
Inggit kedua, yang hg kenal saat udah SMP. Tau dari buku2 ttg Bung karno. Inggit Garnasih namanya. Isteri kedua bung Karno yang secara umur lebih tua dari Bung Karno. Isteri Bung Karno yang kalo menurut hg pribadi paling matang, paling tangguh.
Pada masanya, Bung Karno belum jadi apa2, masih susah. Masih labil meskipun dnegan semangat bak singa podium. Belum jadi bapak bangsa ini (literlekh, he..). dan sangisteri, salutnya kalem2 aja…
Jualan pupur dingin, ngejahit, untuk bisa hidupi diri sendiri saar Bung Karno dipenjara di Sukamiskin, Bandung.
Jalan kaki saat gak punya uang untuk jenguk bung karno di penjara bareng ma Omi (anak angkat), dan itu gak sekali dua kali.
Banyak yang sudah dilakukan Bu Inggit untuk Bung Karno,tapi mungkin untuk Bung Besar, itu gak cukup. Dalamsebuah buku, diceritakan bahwa Bung Karno akhirnya menikah lagi dgn Fatmawati (kelak, melahirkan 6 orang anak yang ‘fenomenal’). Dan dalam sekejap, cerita ttg perjuangan penuh liku, kesetiaan yang berlapis-lapis dan ketegaran Inggit Garnasih Cuma jadi cerita usang dihadapan konstruk lain bernama Cinta (atau nafsu?) seorang Bung Karno.
Inggit Garnasih. Perempuan yang rela ditinggalkan dan tidak dinafkahi lahir batin selama berbulan-bulan, perempuan yang rela dibuang jauh bersama suaminya, ibu yang begitu kreatif mendidik anak-anaknya (Omi dan Kartika). Pada akhirnya harus tunduk pada keputusan sang suami untuk menikah lagi. Tapi pantang baginya dicandung (dimadu).ia lebih memilih untuk bercerai.
Meskipun dalam sebuah buku, disebutkan bahwa baik Bung Karno dan Inggit masih saling mencintai, namun mereka toh akhirnya berpisah juga…
Inggit garnasih. Kadang hg bepikir bahwa gak banyak yg bisa ngerti jalan pikirannya. Tapi kayaknya hg salah deh…mungkin kebanyakan laki2 gak akan ngerti, “kalo masih cinta knapa minta cerai?”
Tapi yakinlah, perempuan2 akan bisa faham…
Jawabannya mungkin tidak rasional-menurut definisi umum-, tapi dapat diterima. Bahwa cinta tidak hanya masalah mengikuti apa yg diinginkan olehhati dan terus memanjakannya. Namun lebih kpada apa yang dapat dihasilkan secara lebih progresif, lebih indah dgn adanya cinta. Meskipun dibungkus dengan kepahitan
Mungkin karena cinta memang sejatinya bermuka dua..