kontrol sosial

Dalam sebuah peradaban Cina di beberapa dasawarsa zaman Mao, komunisme, sama rata sama rasa mungkin menjadi ruh. Mengutip kata Goenawan Muhammad. Semangat bourgeois dibasmi dan diganti dengan smangat citoyen-seorang yang mengejar kepentingan sendiri didesak untuk jadi warga yang mengabdi pada masyarakat.

Kala itu, yang mungkin menjadi kontrol adalah tak hanya kontrol sosial berupa kecemburuan dari lingkungan ketika ada orang yang lebih maju, namun mungkin juga militer, intel di setiap lini kehidupan,. Sehingga mau tak mau semua orang konform dengan apa yang harus mereka ikuti dan lakoni.

Itu China. Apa hubungannya dengan Indonesia, atau lingkup kecil: kampus UI.

Gak ada memang, ini hanya pemis-premis yang putus-putus

Dalam sebuah kelas, disemester 2 kuliah psikologi. Seorang asisten dosen berbicara di depan. Dia berkata “kalian tau, orang2 indonesia itu kayak kepiting. Gak suka kalo ada temnnya yang lari duluan ke bibir pantai, melainkanharus bareng2. contoh lain, kita itu kayak orang yang gak bisa liat rumput lebih tinggi ketimbang rumput yang lain. Bawaannya pengen dipangkas aja”

Huahaha…saat itu anak2 dikelas Cuma bisa ketawa, menertawakan diri kami sendiri? Mungkin…

Dan asdos itu juga sedang membicarakan dirinya sendiri?hmm..mungkin juga.

Tapi, mungkin benar apa yang asdos itu katakan. Bahwa kita terkadang tak sudi melihat orang lain lebih dari kita. Kecemburuan (jika tidak bisa dibilang dengki atau sirik) itu ada, dan dipelihara, terkAdang.

Gilda. Seperti gilda. Dalam struktur gilda, semua diatur. Tak ada yang boleh berbeda, karena  yang berbeda berarti khianat. Khianat pada struktur yang ada. Adilkah itu? Mungkin ya..tapimungkin juga tidak. Atau bukan adil konstruk yang penting disini?
apapun. Tapi gilda dan mungkin struktur2 pengikat lain dibuat demi alasan ketertiban,kelancaran,dan kesamaan yang berujung pada harmonisasi.

Tapi betulkah begitu? Tidakkah struktur semacam gilda melahirkan totalitarianisme? Bahkanlebih dari itu, rezim yang mengungkung kreativitas dan hak seseorang?

Merepotkan, jika struktur semacam gilda masih harus dipertahankan.

Semangat egalitarian yang diterapkan dengan kepahitan. Kenyataan berkata demikian memang, meski konsep matang sudah dirancang…

Dan gilda ada dimana2, dalam konteksnya yang terhalus hingga yang paling destruktif.

Leave a Reply