si degil menulis lagi
2006 lalu, seorang teman pernah berkata “ semestinya politik kampus kita gak perlu dikotori dan dibikin runyam dengan ada pemira lokal. Adanya pemira bikin semua orang lupa sama esensi dan substanasi dari apa yang semestinya kita sikapi dan hal2 lain yang sebenernya lebih penting. Hapus aja tuh sekalian sistem pemira dan pemilihan kabem dan mpm fakultas. Tapi..repot juga ya kalo gitu, gw ga akan bisa lagi dong ada disini. Menebarkan benih2 pemberontakan.hehehe…”
Saat itu mungkin si teman sedang jengah dengan keadaan fakultas2 di UI yang terkesan ramai, penuh intrik, dan menurutnya agak kampungan.
Masa itu, Cuma bisa senyum dan berpikir ttg kemungkinan yang teman tadi tawarkan. Sambil akhirnya menggeleng. Itu dua tahun yang lalu.
Sekarang, entah kenapa khyalan itu muncul. Mungkin karena kondisi yang sama, polapikir yang juga pada akhirnya putus asa melihat keadaan pemira yang sedemikian payah. Jika dulu pemira menjadi ajang jualan pepesan kosong, sekarang keadaannya gak jauh beda. Dari dulu sampe sekarang, masih sama.
Menyaksikan pemira di fakultas2 di UI sama halnya dengan melihat pertunjukkan kembang api. Ramai, meriah, dan menarik, tp lama-lama membosankan. Entah karena gaya yang memang itu-itu mulu (kayak orang jualan obat) atau karena emang menghibur tapi sejatinya gak cukup lama bisa diandalkan dan bermanfaat kalo diperhatiin lama2, atau justru ada hal lain? Tergantung persepsi memang.
Gagap politik, itu juga kerap ditunjukkan oleh mereka yang memilikitoleransi rendah dan mungkin pemahaman kondisi real yang minim.
Entah kenapa, dikampus yang anak2 nya terkenal akan moral dan intelktual tinggi ini, selalu bisa kulihat kekerdilannya. Mulai dari black campaign, hingga pemasalahan internal yang dibesar2kan.
Tolol luar biasa. Kadang aku berpikir bagi mereka yang memang tidak siap bertempur diranah politik kampus secara fair, jujur, dan BERANI lebih baik tidak usah ikut dari awal. Atau juga untuk mereka yang pemahaman dan toleranasi politiknya rendah. Amat sangat disayangakan jika momen demokrasi seperti itu dirusak dgn keberadaaan orang2 bodoh yang tidak cerdas dan tidak bermental petarung sungguhan.
Untuk mereka yang merasa bahwa kekuasaan ada untuk direbut, untuk merekayang merasa layak menegur orang lain dengan kuasa mereka, untuk mereka yang husnuzhnnya pada saudara sendiri amat lemah dan mudah goyah, untuk mereka yang penakut dan tidak berani bersaing, untuk mereka yang tidak profesional dan tidak dapat membedakan ranah pekerjaan, untuk merek ayang merasa ajeg dan besar karena kekuasan yang diturunkan, untuk mereka yang tidak percaya pada para pemimpinnya, untuk mereka yang merasa aman karena disokong oleh banyak orang, untuk mereka yang hanya bisa komentar padahal tidak tahu apa yang dibicarkan, untuk mereka yang menegasikan kerja bersama dan percaya pada insting belaka, untuk mereka yang manja dan biasa diimingi kemudahan!! Blog ini aku tuliskan. Ini Cuma opini, kalau ada yang keberatan, silahkan buat balasan.
Aku hanya ingin berkata: sungguh, kalian harus belajar sesuatu.kita harus banyak belajar. Dan aku tidak sungkan ingin belajar dengan kalian, kita saling mengajari, dan untuk suatu waktu, izinkan aku mengajari kalian, kalian ajari aku. Bukan, bukan karena aku lebih bisa atau lebih pintar, bukan karena itu, tapi karena aku ingin kalian melihat sudut pandang lain dari proses belajar. Itu juga belajar. Dan bukan karena kalian lebih cerdas, tapi karena aku yakin bahwa kalian menyarikan sesuatu dengan gaya dan angle berbeda dgnku. Kita harus disonan. Disonan yang sehat…yang konstruktif. Bukan begitu?
Ps: setelah semuAnya selesai. Cuma bisa bilang, ALHAMDULILLAH ya Allah.
Meskipun masih dengan sedikit pertnyaan mengambang…