Dalam satu postingan heggy, pernah ada yang komen. Kurang lebih isinya ttg kenapa sih perempuan tuh rumit banget untuk dimengerti. Orang itu bertanya dan membrikan pernyataan ttg apa coba susahnya untuk seorang perempuan mengatakanisi hatinya duluan ke laki-laki. Dari pada sekedar disimpen dalam hati, dicurhatin ke temnnya, atau paling banter di tulis di diary dan ga seorang pun yg boleh baca. Mana bisa cowoknya tau?!
Simak juga gimana dia kasihcontoh ttg perempuan2 dalam satu zaman yang beda gaya. Yang satu adalah Khadijah dan satunya Aisyah. Pasti tau deh bedanya dimana. Dalam hal kisah asmoro, keduanya Allah anugerahi pendamping hidup terbaik (Rasulullah SAW). Perbedaannya ada pada bagaimana mereka bisa jadi pendamping, ya kan?
Kalo Siti Khadijah MEmilih dan meminta langsung, maka siti Aisyah menunggu dan DIpilih. Perbedaannya mencolok. Yang satu aktif dan satunya pasif. Dan terus terang (Karena hegy terang terus, he…) keduanya halal dan lumrah untuk dilakukan. Sah-sah aja. Bukan satu hal yang bisa digolongkan dalam perilaku abnormal atau bahkan agresif.
Yang jadi menarik, si pemberi komen kayaknya mencoba membandingkan dgn keadaan dalam konteks kekeinian. Dimana, mungkin si pemberi komen jarang menemukan perempuan2 yang mengambil posisi Khadijah, yakni perempuan yang lebih dahulu meminta (melamar, dll). Di alebih banyak melihat bahwa perempuan2 kini cenderung pada gaya2 Aisyah. Yang menunggu untuk dipilih. Lebih tepatnya dia berkata, perempuan memilih untuk dipilih. He…benarkah demikian?
Kurang lebih itulah keheranan si pemberi komen. Hehe…dan di akhir komen,dia tulis gede2. DASAR CEWEK…
Yah, dasar cewek.
Saya, sebagai perempuan. Merasa perlu membuat ulasan (gaya luh! Inimah racauan) mngenai hal ini.
Gini bro, Perempuan emang punya mekanisme yang beda ma laki2 dalam banyak sekali hal. Respon terhadap perasaan dan Cinta termasuk dalam hal yang banyak tadi. Dalam psikologi yang saya pelajari ampe bedarah -darah(halah…), pertama (secara fisik), strukutur otak laki dan perempuan aja beda. Dimana? Dibagian ttg emosi dan seks salah duanya. Ini, menjadi penyebab kenapa pada akhirnya laki dan perempuan terkdang amat berbeda dalam menyikapi masalah2 terkait ini. Kedua, Disini, kita mencoba menghilangkan bias dengan juga akan membahas secara sotoy dari tinjauan psikososialnya, heu…=)
Adakah yang menyadari bahwasanya laki2 dan peremupuan as konstruksi gender telah begitu menghegemoni dalam khidupan sehari2? Saking mendominasinya, masyarakat yang ada dalam komunitas itu terkadang menjadi begitu conform terhadap banyaknya konstrusi social yang DIbangun tersebut. Karna kalo ga conform (ikutan) maka, diasumsikan org tsb (si individu dalam komunitas) ga bisa adaptif dan survive dsna. Is that true? Hmm..ga ada jawaban pasti. Tapi biar konkret mari kita ambil contoh.
Contoh: mobil itu mainan laki2 dan perempuan itu boneka, betul? Pink itu warna perempuan, dan biru warna laki2, perempuan itu mestinya kerjain pekerjaan domestic,laki2 cari uang diluaran, apalagi? Perempuan ga layak untuk ‘nembak’ duluan, laki2 mestinya yang selalu maju lebih dulu.
contoh hg lazim kita dengar dan kenyataannya gtu gak?
padahal. Coba deh dipikir, sejak kapan mobil identik ma laki2? Dan kenapa juga anak laki2 ga boleh main boneka? atau soal warna yg notabene masalah persepsi dan selera, sejak kapan ada dalilnya kalo laki2 ga bole suka pink? Dan ntk perempuan ga layak maju duluan, wah…ati2 tuh! Siti Khadijah tuh contoh teladan, Qudwah Hasanah. Jgn negasikanapa yang pernha beliau lakukan dulu dong!!
tapi, suka ga suka. Itulah konstruksi social yang ada disekitar kita. Dan kalo mau ditilk lebih jauh, itu tuh sebenrnya banyak ga masuk akalnya, dan lebih parah. Menempatkan perempuan (khusunya) dalam posisi yang lebih sulit. Anyway, jgn lupa. Lingkungan yang membentuk kita tuh dari semenjak bayi dah kasi kita perbedaan2 itu, wajar kalo pada akhirnya, hal2 yang kurang masuk akal tadi diterima jadi smacam ‘postulat’ (hehe..), satu hal yang emang “udah dari sononya begitu” (haaah..itu mah kata lain dari kitanya aja yang ga berani ‘mengguncang’ norma yang ajeg dimasyarakat)
Itulah, kenapa pada akhirnya. Perempuan (terutama yang masih punya dan pegang stereotype perempuan versi ‘normal dan kebanyakan’ –hegy bilang sih mainstream) kadang terkungkung dgngaya2 pasif. Tidak terkecuali masalah cinta dan gaya pengungkapannya.
Lebih spesifik dan kalo yang ini mah emang pure pendapat pribadi yang berbaur dgn pengalaman, nilai hidup, dan skema berpikir. Ttg perempuan yang ga berani untk proaktif soal cinta. Hehe…gimana ya Gor, kalo hg sih ngerasa kalo sebenrnya banyak kok perempuan2 yang aktif (MR gw termasuk,hehe..dan dia mengajarkan pada kami ttg equalnya ‘tanggung jawab’perempuan dalam hal cinta2an,heu…geli!!) dan gak tabu untuk perempuan bersikap sepertiitu, bahkan bagus kan? Jadi ga nyusahin ikhwannya.hehe…
Cuma, emang perlu keberanian ekstra dan kesadaran diri tinggi untuk melakuakanhal2 terkait itu.
secara heuristic, kita selalu diajarkan bahwa umumnya, perempuan tuh kan emang lebih cenderung halus perasaannya, memakai emosi dan perasaan dalam bertindak (kesaannya ga punya kapasitas logika gtu,huu..), cenderung pemalu untuk jujur dalam ekspresi cinta, dll. Yaah….mungkinitu yang sellama ini terlihat dan diamini. Dan mungkin jug aitu pada akhirnya jadi fakta bahwa itu benar adanya. Selain itu, kecenderungan perempuan untut ‘ga tahan banting’ dalammasalah2 kayak gini (ga bener nih..ini mah opini public.hehe…) juga ikut ambil bagian tuh kenapa pada akhrnya perempuan jd pasif.
Tau gak gor. Buat perempuan, kadang lebih mending ga diliat daripda malu ditolak. Mungkn itu tadi,karna perempuan tuh menurut gw lebih serius ngelait cinta dan perasaan (bukan berarti ga ada laki2 yang bgitu, ada pasti). Lebih dalam liat itu sebagai hal yang intens dan amat jauh melibatkan semua hal. Gak Cuma indra fisiknya yang bekerja, tpai juga semua yang dia punya: hati,otak, nurani, dll. Plus ditambah, ego perempuan tuh tinggi bro!! gengsinya selangit (he…betul ibu2?)
mungkin ini bisa menjawab kenapa cowok2 suka bingung ma cewek2.hehe…pernah ada yg becanda gini “ kalo perempuan bilang mungkin berarti iya, dan kalo bilang nggak berarti mungkin”. Bahasa perempuan dan laki2 tuh beda…
ketidakkonsistenan perempuan dan keimplisitannya sebenernya justru senjata untuk bikin laki2 jadi jatuh bangun dan berpikir keras. Tapi justru disana seninya bukan (kenapa jadi bahas seni ya?hehe..).
Freud aja gak sukses2 ngebedah otak perempuan!udah penelitin puluhan tahun tuh..
Yah,intinya. Kita ga selalu bisa melihat fenomena dan mnjadikanitu sebgaai sebuah teorema baru. Kecualikalo dah ada peneltiannya,hehe…
Tenang gor, yang loe liat ituh 90%nya, masih ada kok 10% (angka darimana pula!!) perempuan yang gakmainstream, yang percaya bahwa mereka punya hak yang sama dengan laki2. Mengambil posisi mereka untuk memilih (meskipun, harus diingat kaloada pemeo kayak gini “laki2 bebas memilih, tapi perempuan bebas menolak. =))
Both laki dan perempuan, bargaining position keduany menurut gw sama. Cuma, dalam hal2 tertentu emang kadang kita mengambil posisi aman kita sendiri. Ini kan Cuma masalah pengambilan peran. Gak lebih…^^. Tapikalo gw ditanya, gw kayaksiapa (mau ambil peran Siti Khadijah atau Aisyah) gw sih ga berkeberatan untuk MEminta. Serius,
Last, ini untuk kalian para pembaca laki2 renungkan. Andai, andaikan saja bahwa kalian yang suatu hari diminta oleh seorang perempuan. Kalian akan ngerasa kayak apa? Siap mental gak? Atau..justru ngerasa terluka harga dirinya, dan ngecap balik si perempuan pemberani itu sebagai perempuan agresif yang gabisa menempatkan diri?
Coba deh dipikir…seberapa berani kalian untuk terima kenyataan itu? Seberapa mahfum kalian? Seberapa legowo?
Sadarkah, bahwa laki2 adalah salah satu mata rantai yang membuat perempuan kadang gak berkutik dgn semua konstruk2 sosial itu?. Atas nama harga diri.
Pikir.
Ps: kita ga hidup di zaman Rasul. Ketika akhwatnya seSubhanallah Siti Khadijah, dan laki-lakinya memiliki kerendahatian dan tingkat kecerdasan emosional se-outstanding rasullulah SAW. Meski itu bukan pemakluman yang wajar.^^