Setiap dari kita pasti terberi dengan karakter, sifat, dan temperamen yang beda2. Sebagai anak psikologi, gw belajar di kelas thru buku2 bahwa ketiga komponen kepribadian diatas adalah terberi, rigid alias gak bisa berubah. Mungkin bisa bergeser dan berubah kadarnya…tp, pada akhirnya akan tetap pada satu continuum yang sama.
Lucunya, setiap dari kita akan pasti bertemu, berinteraksi dan bersinggungan dengan banyaaaaaak bgt karakter, sifat, dan temperamen yang juga beda. Plus sikap dan nilai2 hidup yang juga pasti akan ada.
Setiap persinggungan tadi bukan ga mungkin menyebabkan konflik. Kembali, menurut ilmu psikologi yang selama 4 tahun lebih gw pelajari (haha…ketauan tuanya deh!!) , konflik tuh ada dua macam: konflik negative dan konflik positif. Hmm…mending kalo semua persinggungan selalu positif, selalu membangun dan mencerahkan. Terkadang, dalam kenyataannya bahkanmungkin akanlebih banyak sisi-sisi negatifnya. Pernahkah tepikir olehkita. Dengan apa kita bertahan selama ini? Dengan apa kita bisa adaptif dengan semua perbedaan dan konflik?
Freud pasti menjawab dengan defense mechanism. Ada Sembilan DM. yang mungkin paling sering dipake mungkin rasionalisasi (dipake ma org2 yg ngerasa kapasitas otaknya bisa merasionalisasikan apa aja!heu..)
Frankle. Pasti pake logo terapi. Kalo Roger? Pake pendekatan humanistic. Kalo Bandura? Social Learning, kalo Skinner? Pasti pake gaya2 Behaviorist yang semuanya cenderung bergantung pada kondisioning dan pembiasaan mekanisme reward-punishment .
Tapi taukah kawan, dari semua gaya2 tadi. Akan tetap ada satu garis merahnya. Garis yang kalo mengutip Freud menjembatani antara Id dan Super Ego. Yaitu hadirnya Ego. Si jembatan kompromi.
Yup, di tataran ini kita akan masuk ke tataran ide gw. Opini gw.
Semua yang mendasari proses adaptasi adalah satu konstruk berjudul kompromi. Seperti komprominya id dan super ego. Komprominya diri dan jiwa kita pada keterbatasan dan tetap bersyukur juga berkembang dalam kondisi seburuk apapun kayak yang dicontohkan ma V. Frankle.
Mungkin, jauh didalam diri kita. Kekuatan kompromi itu tersembunyi dan g a berasa daya kerjanya, tapi kalo dipikir2 dalam kehidpan sehari2, dari hal yang kecil (bersabar kalo ada yg marah2 ga jelas, ngantri lama di toilet, ada anak kecil yang nangis di kereta penuh sesak,dll) sampe yang besar (ketemu ma org dengan nilai hidup yang beda dan kita masi mau temenan baik, dibohongi tapi masi mau kasi kesempatan utk org itu berubah, jalan bareng dgn orang yang beda cara pandang tapi ga bunuh2an.hehe..) kita tuh selalu punya mekanisme itu. Menahan diri, kompromi, toleransi.
Kompromi bisa buat kita pnya jembatan yang lapang untuk bisa terima banyaknya perbedaan, bersabar dengan konflik, dan dengan konsisten mencoba mengubah apa-apa yang kita percaya untuk sekedar member ruang bagi pihak lain masuk ke kita (dan ternyata, begitujuga sebaliknya).
Ngerasa jadi bunglonkah dnegan kita berkompromi? Hm…bisa juga., tapi kalo gw termasuk orang dgn mazhab aktif dan bukan deterministic untuk yang satu ini. Semua tuh pilihan dan secara aktif dilakukan dengan sadar, jadi bukan mekanisme otomati s (beda ma Freud yg pake pendekatan sadar-gak sadar).
Setiap dari kita memilih untuk kompromi atau gak kompromi. Karena kita mau, karena kita merasa perlu, karena kita butuh, dan ini yang mungkin paling penting: kadang, pada beberapa kasus, kita berkompromi karena kita merasa dengan berkompromi maka akan ada pihak yang belajar, ada pihak yang akan bertumbuh. Tebak, siapa pihak yang belajar itu? Orang selain kita-kah?
Hm…menurut opini gw, yang akan belajar adalah semua pihak yang berada dalam pola kompromi tadi. Semua dapet belajarnya. Ini smua justru bukanttg menumbuhkembangkan org lain, tapi justru ttg diri kita sendiri. Berapa banyak sih kita berkompromi ma org lain ketimbang ma diri sendiri? Hayo…?
Ide besarnya adalah ttg mencoba berkompromi dgn banyak hal, banyak elemen, banyak pihak. Ga kecuali diri sendiri.
Ada lagi yang lucu,
Pengalaman pribadi menunjukkan bahwa ketika kita dalam fase kompromi, terkadang kita jadi kayak orang yang gak konsisten, plin-plan. Kadang bgini, kadang bgitu. Kayak bunglon deh..
tapi kayak tadi hg tulis diatas, bahwa berkompromi itu pilihan, maka menjadi tidak konsisten tuh mestinya kita ganti konstruknya jadi fleksibel aja kali ya?hehe..(ininih !!rasionalisasi)
Haaah..apapun deh. Mengutip pernyataan seseorang yang seriiiiing bgt berkompromi:
“ gw suka kok berkompromi ma elo” dan gw entah kenapa amat yakin, andai aja gw mau Tanya “kenapa mau?”, dia pasti akan menjawab, “ karena gw mau. karena dengan begitu gw akan banyak belajar, gw akan bertumbuh untuk semakin matang dan dewasa, karena dengan berkompromi hal itu menunjukkan betapa besar ruang gw untuk elo. Karena dgn berkompromilah maka dua kekerasan hati bisa dijembatani, dua logika dipertemukan, dan kenyamanan ditumbuhkan. Elo tau Gy? Gak mudah…bahkan terasa aneh saat harus berkompromi (terutama karena hal2 yang dikompromikan ga ada di repertoire gw utk dikompromikan). Tapi ternyata rasanya menyenangkan saat bisa melihat org lain (dalam hal ini Heggy) hidup lebih nyaman. Gw merasa dewasa, hati gw lapang, dan gw menang melawan kekerdilan sudut pandang gw sendiri”.
Jawaban yang gw karang sendiri,karena somehow. Kalo gw ditanya kenapa gw mau kompromi,maka jawaban gw akan kurang lebih sama ^^.
Postingan kali ini untuk smua yang suka kasih ruang gw berjibaku ma pilihan2 untuk keras kepala dan kompromi:
gita nuansa (menguji mental dan hati gw), cune (seperti selalu utk sebagian besar hal dlm hidup), van-Cil (halah…tau aja kale!!^^), CT2002,2002,2004 (fhhfffffff…..kadang capek!!tapi ga apa.hg tahan kok.demi hal2 yg lebih tinggi nilainya. Hg tahan), Linda dan ceritanya yg bikin sebel, restu tri handoyo utk keras kepala dan (entah kenapa) selalu hampir bisa meredam hg, tentu saja patrya (utk semua sabar dan konsisten bersabar. Kau parah sekali bung!hebat!!) , dan semua yg ngerasa.hehe..