metafora2 itu bermetamorfosis

lamat2 semakin jauh asa..

tak terbayar meski sudah ditukar. dgn banyaknya bilangan tak terkuantifikasi: bulir air, tetes darah, nilai kepuasan dan senyum ibu, rasa malu, gengsi. sebutlah apa lagi..

 

saya taklagi punya metafora. karena kiasan tak lagi mempan

sindiran apalagi teguran tak berpengaruh.

 

dalam gilda, saya hanya bisa bicara pada gulungan2 kain; merutuk pada dinding; mencaci diri sendiri; dan dalam satu konstruk tertentu mendahulukan sabar dan tenang, meski saya tak biasa begitu. tapibeginilah..saya hidup dalam gilda. gilda yang semestinya lekang dan perlu penyesuaian..

 

*ketika satu dua pengingatan tak lagi cukup. saya sadar, itu karena saya yang keras kepala, dan keras hati. tak pernah ada masanya mereka, kalian jadi tertuduh..

 

.-/l/l/.-/….//-.-/.-/u//-/.-/u//

.-/-.-/u//–/./-./y/./.-./.-/….//

Leave a Reply