menolak untuk takluk
Ada satu cerita di zaman khlaifah Umar..
Di zaman yang bahkan cinta sudah menemukan bentuknya yang mulia.
Diketahui ada seorang laki-laki yang tergila-gila pada seorang perempuan..laki-laki tersebut mencintai sang perempuan begitu rupa, gayung bersambut, si perempuan pun mencintai laki-laki yang mencintainya. Mereka mencitai dengan tulus, meskipun belum menjadi cinta misi..tapi cinta mereka adalah cinta jiwa yang halus..
Sayangnya, cinta mereka tidak bisa dipertautkan..karena kondisi sosial tertentu. Mereka tidak dapt bertemu, bersitatp dan melepas rindu.
Hingga si perempuan pun akhirnya tidka mampu menahan diri dari kungkungan rindu dan berkata
“ tunggulah aku, aku akan memasuki rumahmu begitu hari gelap..”
Kata-kata si perempuan menampar kesadaran si lelaki, ia merasa malu telah merasa diperdaya oleh cinta jiwa yang selama ini dimilikinya..
Dengan berat hati laki-laki ini berkata “sungguh, aku malu pada Allah..ada Ia yang mengawasi kita. Dan apa yang kita lakukan sungguh telah terlalu jauh. Aku malu padaNya..”
Bagaikan disambar petir, kesadaran pun menelusup tiba-tiba dan cepat pada si gadis..
Menyadari bahwa ia telah terlalu jauh melangkah atas nama cinta jiwanya, gadis itupun pada akhirnya mewakafkan hidupnya untuk beribadah. Tapi tahukah? Bahkanketika ia mewakfkan hidupnya untuk ibadah, cintanya tidak mati…justru semakin subur dan terpelihara
Cinta nya berubah menjadi pilinan kata-kata penuh harap dan rintihan doa terbaik untuk kekasihnya
Rindunya menyublim menjadi keyakinan bahwa Allah akan mengembalikan cintanya di tempat terbaik.kelak.
Tapi cinta jiwa memang memiliki karakteristiknya sendiri. Ia tidak hanya dapat dipuaskan dengan harap dan kata-kata yang menembus arasy Allah..ia membutuhkn kanal-kanal penyaluran. Karena rindu itu butuh untuk disampaikan, wujud cinta itu mungkin dapat dipuaskan dengan sentuhan fisik, dnegan telinga yang lega mendengarkan suara kekasihnya, dengan tatapan yang bersirobok dan meneduhkan..
Dan jiwa yang menginfakkan hidupnya untuk ibadahitupun ambruk. Ia tak lagi kuat menanggungkan beban cintanya yang menggunung..menggunung namun tak ia bagi.
Hingga akhirnya Allah memberinya kemuliaan dengan mematikanya dnegan menanggungkan rindu pada kekasihnya di dunia…syahid kah ia? Aku tidak tau..
Lalu, bagaimana kabar kekasih wanita itu?
Adakah laki-laki itu lapang setelah ia menyadari bahwa cinta jiwa mereka yang dalam telah sekali dua kali salah melangkah…?
Lelaki itu menempuh jalan yang tidak jauh berbeda dengan kekasihnya, ia menkonversikan cinta jiwanya menjadi cinta misi..untuk Tuhan dan ibadah saja…
Tapi benarkah semudah itu? Jawabnya pasti tidak.
Toh pada akhirnya, saat wanita kekasihnya meninggal, sang lelaki shaleh tetap tergugu dipusaranya, meratap dan mengadu pada RabbNya. Rindu dan cintanya tertumpah berserak di depan pembaringan sang wanita…dan satu persatu dijumputi oleh para malaikat hingga naik ke langit ketujuh dan menggetarkan penghuninya…
Kelelahan berdoa, sang lelaki tertidur di pusara sang kekasih. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu kekasihnya, dalam wujud yang sangat cantik,,,
sang wanita menyapa sang lelaki dan berkata “ apa kabarmu? Aku baik sekali dengan keadaanku disini..kapan kita akan bertemu dan bersatu? Lupakah kau padaku setelah selama ini? Tahukah kau kekasihku..aku selalu menunggumu…”
sang lelaki yang takjub melaihat kekasihnya hanya berkata, “ aku rindu sekali padamu…tak pernah seharipun aku lupa padamu..doakan agar aku bisa segera menyusulmu, dan kita bisa berkumpul dalam keadaan yang lebih baik..”
dan tahukah?
Hanya 7 hari setelah si lelaki bermimpi. Allah mengabulkan keinginannya untuk berkumpul dengan kekasihnya..
~ Kisah yang ekstrem bukan? Mungkin kalo ditanya, gak ada satupun dari kita yang mau punya kisah cinta yg lebih tragis daripada kisah sinetron kayak cerita diatas. Tapi..bukankah ada banyak hal yang bisa diambil? Bahwa ternyata cinta punya mekanisme kimianya sendiri, ia tidak berdiri digdaya dnegan hitung2an logika, seperti dua kekasih yang memilih untuk berjalan sndiri2 sebagai hukuman bagi diri mreka sndiri, namun di sisi lain saling merindukan, saling berharap, dan saling mendoakan..rasanya seperti apa? Pasti menyiksa..*itukah cinta? Membuat kita menjadi begitu masokis?*
Begitukah cinta? Konstruk sederhana yang membadai jiwa manusia dengan hebatnya?
Aku sudah melihat kehebatannya..sekaligus dampak merusaknya yang dahsyat! Dan di titik ini aku berikan salut terbaikku untuk mereka,para pencinta gagah berani yang melandaskan cinta mereka pada cinta misi yang agung, dan cinta jiwa yang suci:
Hidayati sarah, Lintang D.F, Arfika, Shanti N Andien, Ivan Ahda, M. Ismail Faruqi, Ahmad Fathul Bari, Zulifan, Puwo Udi Utomo, Zainul Azmi
~ tak ada pilihan. Dan jika harus memilih, sepertinya pilihan kayak cerita diatas jadi alternative utama.
Id, ego, super ego. Berperang dan berkompromi setiap saat. Tapi selalu ada hal2 mendasar yang tidak bisa dikompromikan. Kaku? Tidak, aku tidak menyebutnya begitu…dalambahasaku, aku menyebutnya sebagai postulat. Satu hal yang hadir dan tidak perlu diperdebatkan lagi…
Pun begitu, postulat tidak selalu menggembirakan hati..tapi yakinlah, selalu melapangkan pada akhirnya
*postingan ini udah lama. tapi saya tulis lagi,
sekedar pengingat bagi hati2 yg lalai (hati saya terutama…), bahwa kadang, nikmat cinta yg Allah kasih akan bs dgn mudah berubah statusnya. dan kita wajib mati2an jaga itu…
sekali dua, pasti kepeleset, toh kita emang bukan nabi Yusuf yang terjaga. bukan pula Siti Maryam yang amat suci…
tapi,,bukankah tantangannya ada disana? sekuat tenaga menjaga hati (bukan versi Yovie n Nuno loh ya..^^). agar Allah tetap ridha, pada apapun jalan hidup yang sudah Ia skenariokan. keberkahan, berujung Jannah. adakah yang ingin menukarnya dengan keindahan semu nan sementara?
mari,,saling mengingatkan., sesulit apapun itu..
*untuk kamu, aku, kita semua.