i did it!
Sunday, September 21st, 2008
Alhamdulillahirabbal ‘alamin…segala puji hanya milik Engkau.
fiuh…akhirnya, hg lakukan juga! Lega. Ada kelegaan luar biasa saat sudah melakukannya.
Setelah selama ini jadi gamang dan linglung sendiri dibuatnya, akhirnya bisa juga berpikir matang (iya gak ya?) dan berkontribusi untuk hal yang satu ini.
Dulu, hg pernah minta didoakan agar hidup hg tenang dan pasti. Karena setelah merasakan satu fase normal pada tahapan perkembangan dewasa muda hg ngerasa kalo hidup hg jadi kurang terarah (*dalam hal ini saya memang suka defensive dan berbeda dgn banyak orang, jika sebagian orang menikmati fase ini. Saya justru paling menghindari,karena tau ga akan bisa meregulasinya dengan cukup baik ^^)
Sekarang, ketenangan dan kepastiannya emang belum ajeg. Tapi hg bersyukur bisa ambil bagian dan berkotribusi aktif untuk dua konstruk tadi jadi nyata.
Sejujurnya, hg gak terlalu pede untuk begitu. Tapi entah kenapa, hanya berpikir bahwa Allah tuh selalu kasih ujian yang sama kalo kita ga juga bisa lulus. Setelah beberapa kali trial dan hasilnya selalu sama (selalu nihil dan jelek) hg putuskan untuk melakukan langkah ini. Last step.
Bersyukur dengan segenap jiwa raga bahwa ternyata ini adalah sebuah ujian yang amat menantang tidak hanya secara kognitif tapi juga secara psikologis (afektif maksusnya). Hg dituntut untuk breakthrough. Mungkin ga selalu breakthrough tapi itu jadi acuan bahwa dalam proses regulasi satu fase perkembangan dewasa muda ini hg banyak bgt dapet ilmu baru. Mesti puter otak banyak2 sambil tetap dengar apa yang hati nurani bilang. Terlebih, hg belajar untuk bertumbuh (sambil menumbuhkan orang lain yang juga terlibat) dan berkembang.
Alhamduliilah…saya merasa amat kaya. Dengan semua ujian dan proses belajar selama ujian itu berlangsung.
Danpada akhirnya, hanya mengingat janji-janji Allah saja, bahwasanya semua akan diganjar sesuai dengan yang seharusnya. Bahwa takdir akan bertemu dengan ingin (doa dan harap) apabila diperkenankan, dan fakta bahwa Ia selalu memberikan yang terbaik yang kita butuhkan (ketimbag yang kita inginkan) adalah benar adanya.
Heggy yang selalu melonacat2,labil, inkonsisten, dan emosional. Tapi untuk perkara penting seperti ini (satu kawanku pernah menegur keras ttg betapa hg amat sulit untuk pay attention sam org dan hal2. Bahkan yg penting sekalipun), hg merasa bahwa ini lahir dari kegundahan yang meminta untuk dibenarkan, diluruskan, diselesaikan. Ini harus ada akhir yang jelas.
Dan seperti selalu. hg selalu jadi actor utama dalam lakon yang hg buat. Maka, kali ini pun demkian. Hg adalah sutradara, yang mengarahkan sebisa hg lakonnya akan seperti apa. Terlepas nanti pemain2 lain akan berimprovisasi diluar keinginan sutradara.
hg juga produsernya,karena memotivasi, memodali (dgn semangat dan niatan Lillah. Insya Allah) dan berkuasa penuh atas lelakon itu. Dan hg adalah pemain utamanya. Scenario dan adegan2 itu hg yang lakukan.
Setelah semua ini, hg hanya bisa bersykur dengan kelegaan hati luar biasa. Gak ada takut karena lakonnya tidak sukses, gak ada khawatir lakonnya dicap negative, ga ngeri ditinggalin pemain lawan karena hg terlalu intimidatif dan kadang byk improve sendiri, dan insya Allah tidak lagi gamang karena harus bermain dengan beban…
~dari dulu, selalu. hg hidup dengan gaya dan aturan hg sendiri. Hg mengatur apa yang masih bisa hg atur. Dan kali ini? Masih sama. Kendali terbesar tetap di heggy, meski kali ini porsi yang sama besar (entah kenapa, hg dnegan sadar) diberikan ke orang lain.
Kali ini. Heggy butuh sinergi.
Kita lihat saja…
PS: teriring terima kasih untuk Tigor Mulia Dalimunthe. Untuk pengingatan, semangat, dan kejahilannya. I do thankful, Gor. =)